Mari Menuntaskan Yang Belom Kelar…*Looohhh…*

February 5th, 2010

Gue ga pernah bosen untuk bahas topik yang satu ini: kekasih jaman dulu…

Hal yang selalu menarik untuk diperbincangkan saat cewek-cewek kurang kerjaan lagi pada ngumpul, atau setidaknya jadi bahan ketawa-ketiwi sendiri…kayak saat ini.

Gue, cukup seneng bisa mengatakan bahwa gue adalah orang yang beruntung, untuk bisa mempunyai hubungan baik dengan semua kekasih jaman dulu gue. Kekasih dari yang jaman baheula, jaman kuda gigit batu, sampai jaman jahililah. Kadang gue masih tilpun-tilpunan, walau hanya untuk nanyain kabar, atau ngasih berita-berita kecil, baik berita penting atau berita ga penting. Kirim-kiriman SMS, atau kalo lagi ga mau rugi BBM-an, biar gratis.

Mungkin itu semua karena gue selalu memulai hubungan cinta, pasti dari hubungan pertemanan. Ditambah dengan prinsip gue dan (sepertinya) kebetulan prinsip para kekasih jaman dulu gue itu juga, bahwa semua dimulai dan diakhiri dengan pertemanan. Setelah hubungan cinta berakhir, ya urusan romansa dan cinta-cintaannya aja yang ilang, tapi urusan silaturahmi pertemanan ga boleh ilang.

Kayak dua perbincangan terakhir dengan dua kekasih jaman dulu gue itu:

A: eh..eh..eh..gw dapet panggilan interview di …..&….. (*Duuuhh pengen banget nyebutin namanya*) loooohh…hihiiiyyy…wish me luck ya *sambil lumpat kodok*

B: Hwwwaaahhhaaa…keren-keren…

A: Do you know a job as ghostblogger? Ever thought of it?

B: Ha? Menyenangkan sepertinyah.

A: It is, here’s the link.

B: Thanks dear.

A: You should start from something you love. Gue “jual” elo ya.

B: Thanks ya.

See, menyenangkan ‘kan punya kekasih jaman dulu yang masih bisa dijadiin temen?

Karena mereka adalah “aset”, dan kesempatan. Aset untuk bisa dapet temen baru, aset buat dapet pacar baru, aset buat dapet kerjaan baru, dan mungkin aset dapet kesempatan untuk menuntaskan CLBK, yang kata salah satu anak gue di store, CLBK adalah Cinta Lama Belom Kelar :mrgreen:

Makannya gue rempong banget dahh, kalo perempuan-perempuan mereka jaman sekarang rempongnya najish tralalala. Errrr…cuma gue gituh loh…ga perlu dicemburuin ‘kan yah? :mrgreen:

—-

Buat yang kemaren BBM-an ama gue…eh itu beneran gue salah ketik, gue mau munculin Lu? jadinya LuV…walau ya walau salah ketiknya itu ampe 3 kali (*Sapa suruh untuk munculin ? dan V-nya satu tombol*)…

Dan jawaban dari BBM lu yang satu ini: Luv you too deeee…

Boleh ga gue bales dengan: Ke Jogja yukkk…*looohhh* wakakakakkakaka…

—-

Gue yang lagi ga beres, 5 Februari 2010

—-

“Mang elo pernah beres gitu ‘Cha?”

Kerinduan…

January 30th, 2010

Duduk memandangi air yang berjatuhan dari langit, diiringi pengamen yang bernyanyi lagu jawa tentang Jogjakarta sambil memainkan gitar dengan bagusnya, membuat saya ingin pulang ke Jogja.

Hah…ntah mengapa, kota yang satu ini sering membuat saya rindu untuk kembali ke sana.

Bingung sebenarnya kalau ditanya: “Mbak, orang mana? Asli mana,” yang tak mungkin saya jawab dengan jawaban singkat.

“Saya aslinya lahir Jakarta, tapi orang tua Jawa, tapi Mama campuran Jawa-Manado.”

Dan biasanya diikuti dengan timbulnya pertanyaan-pertanyaan tambahan…

“Jawa-nya mana?”

“Jogja. Tapi dari pihak Mama tinggalnya di Magelang.”

“Jogja-nya di daerah mana?”

Terus terang nih, kalau sudah ditanya urusan Jogjanya di daerah mana, saya tambah bingung menjawabnya. Jadi biasanya saya jawab dengan hasil cerita masa kecil yang biasa diutarakan oleh Papa…

“Awalnya Klitren. Terus pindah ke daerah deket Taman Siswa.”

Yupe…Klitren itu rumah si Eyang, yang sayangnya tak pernah saya lihat. Menurut cerita Papa, itu rumah guuueeedddeeee banget, saking besarnya, rumah itu sempat dijadikan biara susteran, setelah Eyang memutuskan menjual rumah tersebut dan pindah ke daerah Taman Siswa. Dan hingga ajal, kedua Eyang saya masih menempati rumah yang ada di daerah dekat Taman Siswa itu.

Sewaktu saya SD hingga SMP, kami sekeluarga masih sering berkunjung ke Jogja, setidaknya hingga saya kelas 2 SMP, saat Eyang Putri masih ada. Tapi setelah kedua orang tua papa sudah meninggal, kami makin jarang ke sana.

Urusan jalan-jalan di Jogja, tak lepas dari duduk lesehan di emperan Malioboro menikmati burung dara; menikmati gudeg Jogja, seturunnya kami dari kereta di Stasiun Yogyakarta, lalu naik becak ke rumah si almarhum adik Papa, yang dulu ada di daerah Baciro; makan Lotek di depan Radio Gerenimo; menikmati jajanan di Pasar Beringhardjo; naik andong. Dan satu hal yang tak pernah saya lupakan, menonton Pretty Woman di 21 bareng sepupu-sepupu saya.

Sepuluh tahun terakhir, Jogja, hanya saya jadikan tempat transit, dan itu pun bukan untuk hal yang menyenangkan. Tiga kali singgah di Jogja, ketiganya berurusan dengan layatan kematian.

Tahun 2000, saya dan Papa pergi naik kereta ke Jogja untuk melayat Opa di Magelang. Itu juga karena kami berdua tidak dapat tiket pesawat terbang, sedangkan Mama sudah pergi terlebih dulu ke Magelang. Tapi seingat saya, ritual turun kereta makan gudeg subuh-subuh, dan mbecak ke rumah si Oom, tetap saya lakukan dengan si Papa. Setelah pemakaman si Opa, saya dan Papa kembali ke Jogja, karena besok paginya saya harus pulang ke Jakarta, naik kereta SENDIRIAN (waktu itu saya senang sekali, pertama kali menempuh perjalanan jauh dengan kereta, tanpa ada pihak keluarga menemani).

Tahun 2005, adik Papa, tiba-tiba sakit dan tak lama kemudian meninggal. Saya, yang tadinya hanya berniat mengantarkan Mama dan Papa ke bandara, akhirnya berubah pikiran…

“Eh, Pa, aku terbang juga deh ke Jogja. Mobil tinggal sini dulu, ntar malem aku pulang.”

Jadilah saya hanya beberapa jam di Jogja. Dan saya ingat betul sesampainya saya di sana, saya seneeennnggg banget bisa melihat kota itu lagi, walaupun saat itu Jogja sedang dilanda sengatan sinar matahari sangat dahsyat panasnya.

September 2007, saya terbang ke Jogja, untuk menghadiri 40 hari kematian Oma di Magelang. Lagi-lagi saya hanya beberapa jam berada di Jogja; hanya saat datang dari Jakarta dan kembali ke Jakarta.

Errrr…Talking about Jogja…kisah cinta saya dengan seseorang, juga bermula di (perjalanan menuju) Jogja. Kalau diingat-ingat, itu adalah perjalanan yang menyenangkan…

Dan itu semua semakin membuat saya rindu Jogja…

Best Advice For Me #6…

January 27th, 2010

“Nyari pacar itu kayak nunggu bis. Lewat di depan kamu tapi penuh, kamu milih naik itu, atau nunggu bis lain yang kosong. Intinya, take it, walaupun ga bisa sepenuhnya memenuhi harapan kamu, or leave it, untuk nunggu yang sesuai harapanmu, tapi lama.”

By AS, November 2008.

—-

Sepertinya for the next time gue kembali seperti semula lah, nunggu bis kosong ajah…wakakakakakak :mrgreen:

Best Advice For Me #5…

January 26th, 2010

“Belajar psikologi itu belajar lebih memahami orang, belajar lebih sabar ama orang lain, bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani. Jadikan itu semua untuk membuat duniamu lebih berwarna. Dek, Dek, such a journey we endure.”

By my beloved sister, Athanasia Karin Taramiranti Nasution, 2004…

Best Advice #4…

January 25th, 2010

“Sertakan doa dalam tiap langkah hidupmu, jangan pantang menyerah, kalau doamu belum terkabul. Mungkin waktu-Nya belum tiba untuk membuat sebuah mukjizat untukmu. Dan jangan pernah berdoa untuk dirimu sendiri saja.”

By a Chinese Pastor who has a Chinese name with the meaning of “Bergantung Pada Keadilan Ilahi”, Last Week’s Mass.

Best Advice For Me #3…

January 22nd, 2010

“Jangan pernah takut, kalo kamu tahu persis bahwa kamu bener dan bisa buktiin bahwa kamu bener.”

My beloved grandpa, FS, when I was 8 years old…

Best Advice For Me #2…

January 20th, 2010

“Lebih bagus lagi kalo orang akan berpikir bahwa kamu itu udah cantik terus pinter.”

By my beloved aunt, FSW, when I was 9 years old…

Kiriman Cumbu Bintangku…(Puisi Singkat #16)

January 19th, 2010

Malam ini langit tanpa bintang, Sayang…
Tanpamu mencuat ke permukaan…
Tapi aku yakin, kau mengirim cumbu untukku…
Di balik awan kelabu, menutupimu malu…

Sambil Berharap Nanti Ngantor Gak Pake Ujan, 19 Januari 2010

Best Advice For Me #1…

January 16th, 2010

“No need to worry, you have everything! Kamu punya kerjaan bagus, punya duit, bisa kemana-mana ndirian, bisa ngelakuin apa aja. Don’t be insecure! Just Stay Gold!!!”

By RH, 8 years ago…

Aku Tak Minta Kau Ambil Bintangku…(Puisi #15)

January 13th, 2010

Kau telah ambil bintangku, Tuan…
Sekarang kau ambil rembulanku…
Sampai hati kau tinggalkan hatiku…
Gelap…

Lagi-Lagi Gak Jelas, 13 Januari 2010