Actually, All We Need Is Our Own Smiles…

March 18th, 2010

Errr…gue pengen nanya beberapa hal ke kalian, tapi tenang aja gue ga perlu jawaban ditulis di sini, cukup ditulis di dalam hati kalian…

Siapa yang pernah gak naik kelas atau ga lulus ujian, atau ada mata kuliah yang perlu diulang beberapa kali baru lulus?

Siapa yang harus putus sekolah atau putus kuliah karena satu dan lain hal?

Siapa yang orang tuanya bercerai dan keluarganya jadi berantakan?

Siapa yang pernah di-duain ama pacarnya, entah punya pacar lagi atau ternyata dah punya istri/suami ?

Siapa yang pernah ditinggalin gitu ajah atau ditinggal nikah sama kekasihnya?

Siapa yang harus, terpaksa atau dipaksa putus sama pacarnya?

Siapa yang belum nikah tapi udah ga virgin dan super duper nyesel setengah mati?

Siapa yang hamil di luar nikah terus ditinggalin ama yang harusnya bertanggung jawab plus dikucilin ama keluarga?

Siapa yang harus menghadapi kematian orang tua saat masih kecil?

Siapa yang harus kehilangan orang-orang terdekat, apalagi kehilangan tanpa jejak dan kabar apapun?

Siapa yang sampe sekarang masih ga punya penghasilan?

Siapa yang pernah ngerasain dipecat secara keliatan atau di “pecat” terselubung dari pekerjaannya?

Siapa yang utangnya bertumpuk dan bingung gimana bayarnya?

Dan pertanyaan gong-nya adalah…

Siapa yang ga pernah punya masalah?

Jawabnya adalah NO ONE

To be honest, pain has been a good friend of mine since long time ago…terus gue (dibuat jadi) mikir (ama dunia sekitar), kenapa si rasa sakit itu ga dikasih temen ya? Temen yang kira-kira bisa sedikit nyeimbangin and ngurangin si rasa sakit ini. Tahunan gue (dibuat mau) nyari temen buat dia, yang sebenernya terakhir-terakhir gue sadarin ternyata ga perlu repot, jauh-jauh, dan lama untuk mempertemukan mereka berdua, karena mereka memang sudah deket, tinggal kitanya sendiri mau mempertemukan mereka berdua atau ga.

Dan ternyata setelah mereka berdua ketemu, jauh mempermudah gue untuk bisa nemuin solusi dari hal yang bisa mbuat gue jadi insecure.

Hmmm…jadi temen baru si pain itu apa ya? I’ll tell you now that is your SMILE



    Smile though your heart is aching;
    Smile even though it’s breaking.
    When there are clouds in the sky, you’ll get by.
    If you smile through your fear and sorrow,
    Smile and maybe tomorrow,
    You’ll see the sun come shining through for you.

    Light up your face with gladness,
    Hide every trace of sadness.
    Although a tear may be ever so near,
    That’s the time you must keep on trying,
    Smile, what’s the use of crying?
    You’ll find that life is still worthwhile,
    If you just smile.

    That’s the time you must keep on trying,
    Smile, what’s the use of crying?
    You’ll find that life is still worthwhile
    If you just smile.

Song Written by Charlie Chaplin
—-

Sooo…senyum dulu yuuukk…

Yes, You, Over There…

March 16th, 2010

Seorang perempuan cantik, wajah bersinar, sedang memijat halus wajah perempuan lainnya, sembari berkata…

“Ah…kalo Mbak ini mah happy terus…orangnya bodokh teuing, ga ambil pusing. Nikmatin semua-semuanya.”

Dan perempuan yang sedang dipijat itu menjawab…

“Jangan kayak orang susah, Bu. Bodokh amat kata orang lain. Mereka mau mikir apa.”

Dan dalam hati…

“Yak sembari totok, sembari dibacain, bacaannya apalagi nanti-nanti?”

—-

Errrr…someone told me that most likely every woman had this disease: INSECURITY…

So, it depends on you whether you want to kill it or not…

—-

So I thank to the whole world who taught me how to kick that disease out of my life, even only 80-90%…and especially thanks to you, errr…yes you, over there, for making me a very, very ignorant person.

*damn*

Dulu…(Puisi Singkat #20)

March 15th, 2010

Aku ingin mengebiri hujan…
Rintihan langit malam ini…
Karena ia tak jua mampukan aku rindukanmu…
Lagi…
Seperti dulu…

Errr…apa? Ada apa ya? Siapa? Do I Know You? 15 Maret 2010 …

Till We Meet Again In Heaven, Baby…

March 4th, 2010

Kurang lebih seminggu ini, saya diminta belajar (lagi) bagaimana menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

Satu hal yang paling saya tidak suka dari memelihara binatang adalah saat saya harus melihat mereka sakit, menghadapi sakratul maut dan pulang ke rumah Tuhan. Itu adalah masa-masa penyiksaan batin bagi saya sendiri. Tersiksa karena melihat dan mendengar mereka merintih kesakitan. Tersiksa karena dilema apa yang harus saya perbuat, apakah harus ke dokter yang most likely mereka akan menyarankan untuk menidurkan bayi-bayi lucu itu (apalagi jika mereka memang sudah tua), atau memutuskan untuk merawat mereka di rumah dengan penuh cinta sampai ajal menjemput mereka.

Saat mereka merintih sakit, tak hanya dia yang merasakan, tapi saya, dan seluruh keluarga juga merasakan rintihannya. Bagaimana tidak, ia sudah tak bisa makan dengan enak. Makanannya harus dilembutkan, dan kami hantar ke mulutnya dengan menggunakan semacam suntikan yang berujung seperti pipet. Kami harus mendirikannya, karena ia tak sanggup lagi untuk berdiri sendiri, bahkan di menjelang ajalnya, kami harus membersihkan kotoran pup atau urin yang ia keluarkan spontan di tempat.

Sudah puluhan tahun biasa memelihara anjing, kami tahu persis, bagaimana kondisi mereka jika sudah mendekati ajal. Begitu pun juga saya, yang sudah mengetahui saat Rambo sudah dekat. Prediksi saya, paling lambat besok, itupun dia pasti akan menunggu saya sepulang kantor. Tak tahu kenapa, atau setidaknya empat anjing saya yang meninggal terakhir, pasti menunggu saya pulang ke rumah. Oleh sebab itu, hari ini saya bela-belain menemani Rambo sepanjang hari. Nyaris saya tak beranjak dari teras depan rumah, tempat “singgasana” si ganteng, nan cerdas, campuran German Shepherd dan Chow-Chow ini.

Saya hanya duduk di sampingnya, mengelus-elus tubuh dan wajahnya yang sudah sangat lemah, sesekali membersihkan badannya dan duburnya dengan tissue basah, sembari bernyanyi dan juga bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang pernah saya/keluarga dan Rambo lalui selama 12 tahun kami hidup bersama. Hal itu membuatnya terlihat manja, Rambo sama sekali tak mau ditinggal, bahkan saat saya berlari ke dalam rumah untuk mengangkat telepon, ia sudah meraung-raung menangis tak mau ditinggal. Tentunya, itu membuat saya langsung kembali bersamanya.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.30, dan saya belum makan siang. Saya bicara dengan Rambo, “Nak, Mimi makan siang dulu ya, belum makan siang nih, ditinggal sebentar ya, Embo mau mamam? Mi siapin?” Rambo pun hanya mengedipkan mata.

Dari dalam sembari makan saya mendengar Rambo tetap merintih minta ditemani. Namun seselesainya saya makan, saya tak langsung menemaninya lagi. Badan ini masih lelah, karena berhari-hari tak bisa tidur nyenyak merawat Rambo, bergantian dengan Mama, bahkan kami harus bangun saat subuh, kalau Rambo melonglong minta ditemani atau minta dibersihkan karena ia mengompol atau pup di tempat.

Akhirnya kurang lebih pukul 17.00, saya kembali memeriksa kondisinya. Ternyata ia masih meraung-raung, dan pup. Saya berlari ke dalam sebentar, karena tisu basah yang sudah saya siapkan di dekatnya sudah habis. Saat saya selesai mengelapnya, saya pun membersihkan lantai sekitarnya. Sedetik setelah saya letakkan pengki yang berisi sampah koran bekas yang juga digunakan untuk alas tidur Rambo, saya melihat ke arahnya dan dia sudah mengompol lagi. Lalu tak tahu mengapa, seperti ada yang meminta saya untuk melihat ke arah wajahnya, yang ternyata sudah bernapas satu-satu, dan perutnya sudah tidak mengembung dan mengempis, seperti adanya sebuah pernapasan.

Saya pun berlari ke arahnya…

“Rambo, Ayank dah mau pulang ya? Ma kasih wa, dah nemenin mimi 12 taun. Sekarang Mimi temenin pulang wa. Dah ketemu sapa aja? Chopin? Cello? Astor? Pluto? Bozo? Titip salam ya Nak, yuk putus ya napasnya, enakkan di surga loh Nak. Nanti kalo mimi mati, Embo jemput mimi wa? I love you, Honey, so much, ampe ketemu nanti wa,” dan saya pun mencium keningnya. Dan Rambo tidur dengan tenang tanpa rasa sakit sedikit pun.

Dan hari ini, tidak ada tangis saat Rambo pergi. Tak seperti hari-hari kemarin saat ia masih merintih kesakitan, air mata ini sempat mengalir, deras.

Saya pun langsung menelepon si Abang…

“Woi, di mana lu?”

“Kenapa lu? Laper?”

“Kagak, di mane?”

“Depan kompleks.”

“Buruan! Pemakaman.”

“Ooohh dah pulang? Thank God.”

“Buruan, keburu gelap.”

Terus terang, tanah itu sudah tergali semenjak hari Minggu lalu. Lagi-lagi, karena keluarga kami sudah tahu persis kondisi saat anjing-anjing kami sudah mendekati ajal, saat ke dokter pun, kami pasti akan mendapatkan respon sebuah sakit hati. Dan hari ini, tanah galian itu sudah kembali tertutup dengan tubuh bayiku, Rambo yang sudah tidur tenang, ada di dalamnya.

Kembali mereka mengajarkan saya, sebuah kesetiaan tiada tara, sebuah cinta tanpa syarat samaaaaa sekaaalliii, bagaimana harus menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

“Ma kasih wa Mbo…untuk 12 tahun yang sangat menyenangkan, maap kalo Mi sering telat ngasi mam, inget tadi waktu kita ngobrol, waktu mata Embo kinclong natap mata Mi, I Love You so much, jemput Mi nanti pas Mi mati wa.”

*seeebbbbeeellll mau upload foto bayi lucuku si Rambo, blog lagi ga bisa upload foto, DAMN*

*eh bisa liat foto bayiku, si Rambo dan teman-temannya itu di sini*

Rindu Bintangku…(Puisi Singkat #19)

February 28th, 2010

Biarkan aku duduk di sini, menatap bulan…
Yang sibuk mencari cara untuk memelukmu…
Karena berjuta jengkal tak akan satukan kalian…
Tak sadarkah bulan, bahwa kau adalah sang bintang…
Yang hanya seribu jengkal dapat ia gapai?

Rindu Bintangku, 28 Februari 2010…

Saya, Cinta…

February 25th, 2010

Perkenalkan, nama saya Cinta…

Saya makhluk tak berwujud yang paling berkuasa setelah Tuhan…

Duniamu ada di tangan saya…
Karena saya bisa mengubahnya…

Membuatmu menangis…
Lalu tertawa…
Saat ada ataupun tak ada orang lain di sekitarmu…
Semua, hanya dengan satu jentikkan jari saya…

Saya bisa membuatmu mencinta saya…
Saya yang ada di dirinya…
Karena saya membiarkanmu mencintanya…

Dalam hitungan detik, saya bisa membuatmu membenci dia…
Yang sudah membencimu…
Atau bahkan yang masih mencintamu…
Dengan sebuah, seribu atau tanpa alasan sama sekali…

Saya bisa menjadikanmu apa saja…
Malaikat cantik tak bersayap…
Seribu dewa pemaaf…
Kerbau dicucuk hidung…
Atau dedemit bertanduk, lengkap dengan garpu berduri…

Kehidupanmu ada di tangan saya…
Dengan menjadikan harimu penuh semangat…
Harapan dan citamu tergantung di atas surga ke tujuh…
Setinggi gambaran fana dirinya yang tergantung di sana…
Yang ternyata perlu keajaiban tersendiri, untukmu meraihnya…

Jika saya sedang jahil, saya bisa mendatangkan kematian untukmu…
Saat saya bisikkan padanya, bahwa ada saya, Cinta, yang lain di seberang sana…
Saat saya sodorkan seonggok saya, Cinta, yang berbalut daging penuh napsu di hadapannya…
Saat saya membuatnya berbalik arah meninggalkan kamu…
Tanpa alasan…
Tanpa satu gelembung buih liur yang dihasilkan dari rentetan kata yang keluar dari mulutnya…

Saya bisa membuatmu berada di antara sebuah kehidupan dan kematian…
Saat kamu saya butakan dengan dosis saya yang berlebihan…
Saat kamu tak sanggup saksikan dirinya memilih saya, Cinta, yang merasuki orang lain…
Hingga kamu hunuskan belati padanya…
Lalu padamu sendiri…
Yang tak juga mengakhiri hidupmu, apalagi hidupnya…
Jeruji besi hati pun siap terbentang lebar menanti untuk mengurungmu…

Lara, saat fisikmu berada di peluknya, yang kamu miliki…
Tapi saya, Cinta, yang ada di dirimu, adalah milik dia yang tak kamu miliki…

Merana, saat seribu sesal, yang coba kamu hapus…
Tak mengembalikan saya, Cinta, yang terbuang dari hatinya…

Tapi saya, Cinta, akan selalu menjadikanmu dewasa…
Walaupun saya, Cinta, akan selalu merangkul benci dan pahit, untuk ditawarkan padamu…

Dan atas nama saya, Cinta…
Saya akan selalu menghantuimu…
Bersamamu…
Bahkan di hari kematianmu…

…Cinta…

Ulang Tahun Yang Tertunda?

February 22nd, 2010

….met utang lawoon yaa ciw….

Ribuan detik kuhabisi
Jalanan lengang kutentang
Oh, gelapnya, tiada yang buka
Adakah dunia mengerti?

Miliaran panah jarak kita
Tak jua tumbuh sayapku
Satu-satunya cara yang ada
Gelombang tuk ku bicara

Tahanlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Untuk dia yang terjaga menantiku

Tengah malamnya lewat sudah
Tiada kejutan tersisa
Aku terlunta, tanpa sarana
Saluran tuk ku bicara

Jangan berjalan, Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku

Mundurlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s’lalu membara
Untuk dia yang terjaga
Menantiku

was sent by someone to my e-mail…at 21st February 2010 at 2.00 a.m…


…It was late, but still it was something for me…thank u Darling for this one…

Pain In The Ass That Rings You A Bell…

February 18th, 2010

Birthday is like pain in the ass…

When you still can not forgive yourself, for the mistakes you made…

If you still have something you wish not happened to your life…

If you don’t feel blessed…

Birthday is like ring a bell…

It reminds you that you are getting older…

It reminds you that you should grow up…

It reminds you that you should getting wiser…

It reminds you that you should stop whining and complaining every time you find troubles in your life.

It reminds you that you have to decide whether you want to pass the “test” and step forward to next level or stand still at the same one…

One thing for sure, I try not to complain, stop the unnecessary whining, and step forward to get higher level of life that God has prepared for me…cause I’m getting closer to my own grave every single day…

Thank you for all birthday wishes for me…

Especially for someone who sent it for the first time…*Surprisingly that you were the first one*

(written as the original one)

“happy birthday Ocha. wishing you only d best years and years ahead,” was sent on Thursday, 18th February 2010, at 01.27.22 a.m

Are You Thinking What I Am Thinking?…

February 17th, 2010

Nih ya..saya katakan kepada Anda semua, ke kalian semua, teman-teman saya tercinta, para kolega saya yang terhormat, dan anak-anak saya yang lucu, “aneh”, “ajaib” bin menyenangkan…JUTEK saya ini sudah DEFAULT alias sudah dari sono-nya seperti ini.

Dari zaman kuda gigit batu, a.k.a zaman baheula, tampilan saya ya seperti ini, tak bisa diubah.

Hampir semua orang yang baru melihat, dan mengenal saya, kemungkinan besar memiliki keseragaman akan penilaian terhadap diri saya…ya, itu tadi JUTEK, judes, galak, dan julukan sejenis…dan saya tak peduli akan hal itu. Apa yang mereka katakan memang benar, karena itu yang mereka lihat.

Tapi saya adalah bagian dari mereka yang menganut paham, bahwa semua itu terjadi pasti ada alasannya, termasuk alasan di balik keberhasilan atau kegagalan saya untuk memunculkan tingkah laku tertentu. Alasan, penyebab, stimulus yang terkadang tak (mau) dilihat oleh orang lain yang berinteraksi dengan saya. Tapi lagi-lagi saya tak peduli apakah orang itu mau melihatnya atau tidak, karena saya cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa untuk memunculkan tingkah laku itu, saya sudah melakukan proses “editing” terlebih dahulu.

“Rawat jalan” saya di Almamater, ternyata cukup membuahkan hasil. Berhasil membuat saya harus menambah masa “rawat jalan” saya sendiri; berhasil membuat saya membuat orang lain akhirnya mengalami “rawat jalan” juga; dan yang terpenting adalah membuat dunia saya jauh semakin berwarna.

Memakai “sepatu” orang lain itu tidak pernah akan bisa sangat nyaman dirasakan (kecuali sepatunya pada akhirnya jadi HM, alias Hak Milik, a.k.a NYOLONG). Karena memang bukan ukurannya, karena memang tidak terbiasa, karena memang itu bukan milik kita sendiri, tapi terkadang kita harus mencoba sesekali, atau bahkan berulang kali, di “sepatu-sepatu” orang yang berbeda.

So why don’t you try to wear my “shoes”? Why don’t you take a look at yourself, before complaining?

And one question for you… Are you still at the same “place” now, or you are already moving forward? If so, why?

I am not him, I am not her. I am what I am, and I have my own way to do what I have to do.

Time will tell at the end of the day.

Terima kasih untuk mereka yang sudah membuat dunia saya jauh semakin berwarna, dengan ikut serta menjadi bagian dalam proses penambahan masa “rawat jalan” saya.

“Written 16th February and will be published on Wednesday, 17th February 2010, at 10.28 a.m”

Bintang Hati dan Malaikat Mautku…(Puisi Singkat #18)

February 16th, 2010

Izinkan aku menyentuh ujung jemarimu, Sayang…
Dari balik penjara hati…
Yang terkunci olehku sendiri…
Kala kunci itu ku berikan padamu…

Kamu…
Bintang hatiku…
Kerikil kecilku…
Dewa penyelamatku…
Dan malaikat mautku…

Byéngsyék, 16 Februari 2010