Till We Meet Again In Heaven, Baby…

March 4th, 2010

Kurang lebih seminggu ini, saya diminta belajar (lagi) bagaimana menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

Satu hal yang paling saya tidak suka dari memelihara binatang adalah saat saya harus melihat mereka sakit, menghadapi sakratul maut dan pulang ke rumah Tuhan. Itu adalah masa-masa penyiksaan batin bagi saya sendiri. Tersiksa karena melihat dan mendengar mereka merintih kesakitan. Tersiksa karena dilema apa yang harus saya perbuat, apakah harus ke dokter yang most likely mereka akan menyarankan untuk menidurkan bayi-bayi lucu itu (apalagi jika mereka memang sudah tua), atau memutuskan untuk merawat mereka di rumah dengan penuh cinta sampai ajal menjemput mereka.

Saat mereka merintih sakit, tak hanya dia yang merasakan, tapi saya, dan seluruh keluarga juga merasakan rintihannya. Bagaimana tidak, ia sudah tak bisa makan dengan enak. Makanannya harus dilembutkan, dan kami hantar ke mulutnya dengan menggunakan semacam suntikan yang berujung seperti pipet. Kami harus mendirikannya, karena ia tak sanggup lagi untuk berdiri sendiri, bahkan di menjelang ajalnya, kami harus membersihkan kotoran pup atau urin yang ia keluarkan spontan di tempat.

Sudah puluhan tahun biasa memelihara anjing, kami tahu persis, bagaimana kondisi mereka jika sudah mendekati ajal. Begitu pun juga saya, yang sudah mengetahui saat Rambo sudah dekat. Prediksi saya, paling lambat besok, itupun dia pasti akan menunggu saya sepulang kantor. Tak tahu kenapa, atau setidaknya empat anjing saya yang meninggal terakhir, pasti menunggu saya pulang ke rumah. Oleh sebab itu, hari ini saya bela-belain menemani Rambo sepanjang hari. Nyaris saya tak beranjak dari teras depan rumah, tempat “singgasana” si ganteng, nan cerdas, campuran German Shepherd dan Chow-Chow ini.

Saya hanya duduk di sampingnya, mengelus-elus tubuh dan wajahnya yang sudah sangat lemah, sesekali membersihkan badannya dan duburnya dengan tissue basah, sembari bernyanyi dan juga bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang pernah saya/keluarga dan Rambo lalui selama 12 tahun kami hidup bersama. Hal itu membuatnya terlihat manja, Rambo sama sekali tak mau ditinggal, bahkan saat saya berlari ke dalam rumah untuk mengangkat telepon, ia sudah meraung-raung menangis tak mau ditinggal. Tentunya, itu membuat saya langsung kembali bersamanya.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.30, dan saya belum makan siang. Saya bicara dengan Rambo, “Nak, Mimi makan siang dulu ya, belum makan siang nih, ditinggal sebentar ya, Embo mau mamam? Mi siapin?” Rambo pun hanya mengedipkan mata.

Dari dalam sembari makan saya mendengar Rambo tetap merintih minta ditemani. Namun seselesainya saya makan, saya tak langsung menemaninya lagi. Badan ini masih lelah, karena berhari-hari tak bisa tidur nyenyak merawat Rambo, bergantian dengan Mama, bahkan kami harus bangun saat subuh, kalau Rambo melonglong minta ditemani atau minta dibersihkan karena ia mengompol atau pup di tempat.

Akhirnya kurang lebih pukul 17.00, saya kembali memeriksa kondisinya. Ternyata ia masih meraung-raung, dan pup. Saya berlari ke dalam sebentar, karena tisu basah yang sudah saya siapkan di dekatnya sudah habis. Saat saya selesai mengelapnya, saya pun membersihkan lantai sekitarnya. Sedetik setelah saya letakkan pengki yang berisi sampah koran bekas yang juga digunakan untuk alas tidur Rambo, saya melihat ke arahnya dan dia sudah mengompol lagi. Lalu tak tahu mengapa, seperti ada yang meminta saya untuk melihat ke arah wajahnya, yang ternyata sudah bernapas satu-satu, dan perutnya sudah tidak mengembung dan mengempis, seperti adanya sebuah pernapasan.

Saya pun berlari ke arahnya…

“Rambo, Ayank dah mau pulang ya? Ma kasih wa, dah nemenin mimi 12 taun. Sekarang Mimi temenin pulang wa. Dah ketemu sapa aja? Chopin? Cello? Astor? Pluto? Bozo? Titip salam ya Nak, yuk putus ya napasnya, enakkan di surga loh Nak. Nanti kalo mimi mati, Embo jemput mimi wa? I love you, Honey, so much, ampe ketemu nanti wa,” dan saya pun mencium keningnya. Dan Rambo tidur dengan tenang tanpa rasa sakit sedikit pun.

Dan hari ini, tidak ada tangis saat Rambo pergi. Tak seperti hari-hari kemarin saat ia masih merintih kesakitan, air mata ini sempat mengalir, deras.

Saya pun langsung menelepon si Abang…

“Woi, di mana lu?”

“Kenapa lu? Laper?”

“Kagak, di mane?”

“Depan kompleks.”

“Buruan! Pemakaman.”

“Ooohh dah pulang? Thank God.”

“Buruan, keburu gelap.”

Terus terang, tanah itu sudah tergali semenjak hari Minggu lalu. Lagi-lagi, karena keluarga kami sudah tahu persis kondisi saat anjing-anjing kami sudah mendekati ajal, saat ke dokter pun, kami pasti akan mendapatkan respon sebuah sakit hati. Dan hari ini, tanah galian itu sudah kembali tertutup dengan tubuh bayiku, Rambo yang sudah tidur tenang, ada di dalamnya.

Kembali mereka mengajarkan saya, sebuah kesetiaan tiada tara, sebuah cinta tanpa syarat samaaaaa sekaaalliii, bagaimana harus menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

“Ma kasih wa Mbo…untuk 12 tahun yang sangat menyenangkan, maap kalo Mi sering telat ngasi mam, inget tadi waktu kita ngobrol, waktu mata Embo kinclong natap mata Mi, I Love You so much, jemput Mi nanti pas Mi mati wa.”

*seeebbbbeeellll mau upload foto bayi lucuku si Rambo, blog lagi ga bisa upload foto, DAMN*

*eh bisa liat foto bayiku, si Rambo dan teman-temannya itu di sini*

Rindu Bintangku…(Puisi Singkat #19)

February 28th, 2010

Biarkan aku duduk di sini, menatap bulan…
Yang sibuk mencari cara untuk memelukmu…
Karena berjuta jengkal tak akan satukan kalian…
Tak sadarkah bulan, bahwa kau adalah sang bintang…
Yang hanya seribu jengkal dapat ia gapai?

Rindu Bintangku, 28 Februari 2010…

Saya, Cinta…

February 25th, 2010

Perkenalkan, nama saya Cinta…

Saya makhluk tak berwujud yang paling berkuasa setelah Tuhan…

Duniamu ada di tangan saya…
Karena saya bisa mengubahnya…

Membuatmu menangis…
Lalu tertawa…
Saat ada ataupun tak ada orang lain di sekitarmu…
Semua, hanya dengan satu jentikkan jari saya…

Saya bisa membuatmu mencinta saya…
Saya yang ada di dirinya…
Karena saya membiarkanmu mencintanya…

Dalam hitungan detik, saya bisa membuatmu membenci dia…
Yang sudah membencimu…
Atau bahkan yang masih mencintamu…
Dengan sebuah, seribu atau tanpa alasan sama sekali…

Saya bisa menjadikanmu apa saja…
Malaikat cantik tak bersayap…
Seribu dewa pemaaf…
Kerbau dicucuk hidung…
Atau dedemit bertanduk, lengkap dengan garpu berduri…

Kehidupanmu ada di tangan saya…
Dengan menjadikan harimu penuh semangat…
Harapan dan citamu tergantung di atas surga ke tujuh…
Setinggi gambaran fana dirinya yang tergantung di sana…
Yang ternyata perlu keajaiban tersendiri, untukmu meraihnya…

Jika saya sedang jahil, saya bisa mendatangkan kematian untukmu…
Saat saya bisikkan padanya, bahwa ada saya, Cinta, yang lain di seberang sana…
Saat saya sodorkan seonggok saya, Cinta, yang berbalut daging penuh napsu di hadapannya…
Saat saya membuatnya berbalik arah meninggalkan kamu…
Tanpa alasan…
Tanpa satu gelembung buih liur yang dihasilkan dari rentetan kata yang keluar dari mulutnya…

Saya bisa membuatmu berada di antara sebuah kehidupan dan kematian…
Saat kamu saya butakan dengan dosis saya yang berlebihan…
Saat kamu tak sanggup saksikan dirinya memilih saya, Cinta, yang merasuki orang lain…
Hingga kamu hunuskan belati padanya…
Lalu padamu sendiri…
Yang tak juga mengakhiri hidupmu, apalagi hidupnya…
Jeruji besi hati pun siap terbentang lebar menanti untuk mengurungmu…

Lara, saat fisikmu berada di peluknya, yang kamu miliki…
Tapi saya, Cinta, yang ada di dirimu, adalah milik dia yang tak kamu miliki…

Merana, saat seribu sesal, yang coba kamu hapus…
Tak mengembalikan saya, Cinta, yang terbuang dari hatinya…

Tapi saya, Cinta, akan selalu menjadikanmu dewasa…
Walaupun saya, Cinta, akan selalu merangkul benci dan pahit, untuk ditawarkan padamu…

Dan atas nama saya, Cinta…
Saya akan selalu menghantuimu…
Bersamamu…
Bahkan di hari kematianmu…

…Cinta…

Ulang Tahun Yang Tertunda?

February 22nd, 2010

….met utang lawoon yaa ciw….

Ribuan detik kuhabisi
Jalanan lengang kutentang
Oh, gelapnya, tiada yang buka
Adakah dunia mengerti?

Miliaran panah jarak kita
Tak jua tumbuh sayapku
Satu-satunya cara yang ada
Gelombang tuk ku bicara

Tahanlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Untuk dia yang terjaga menantiku

Tengah malamnya lewat sudah
Tiada kejutan tersisa
Aku terlunta, tanpa sarana
Saluran tuk ku bicara

Jangan berjalan, Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku

Mundurlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s’lalu membara
Untuk dia yang terjaga
Menantiku

was sent by someone to my e-mail…at 21st February 2010 at 2.00 a.m…


…It was late, but still it was something for me…thank u Darling for this one…

Pain In The Ass That Rings You A Bell…

February 18th, 2010

Birthday is like pain in the ass…

When you still can not forgive yourself, for the mistakes you made…

If you still have something you wish not happened to your life…

If you don’t feel blessed…

Birthday is like ring a bell…

It reminds you that you are getting older…

It reminds you that you should grow up…

It reminds you that you should getting wiser…

It reminds you that you should stop whining and complaining every time you find troubles in your life.

It reminds you that you have to decide whether you want to pass the “test” and step forward to next level or stand still at the same one…

One thing for sure, I try not to complain, stop the unnecessary whining, and step forward to get higher level of life that God has prepared for me…cause I’m getting closer to my own grave every single day…

Thank you for all birthday wishes for me…

Especially for someone who sent it for the first time…*Surprisingly that you were the first one*

(written as the original one)

“happy birthday Ocha. wishing you only d best years and years ahead,” was sent on Thursday, 18th February 2010, at 01.27.22 a.m

Are You Thinking What I Am Thinking?…

February 17th, 2010

Nih ya..saya katakan kepada Anda semua, ke kalian semua, teman-teman saya tercinta, para kolega saya yang terhormat, dan anak-anak saya yang lucu, “aneh”, “ajaib” bin menyenangkan…JUTEK saya ini sudah DEFAULT alias sudah dari sono-nya seperti ini.

Dari zaman kuda gigit batu, a.k.a zaman baheula, tampilan saya ya seperti ini, tak bisa diubah.

Hampir semua orang yang baru melihat, dan mengenal saya, kemungkinan besar memiliki keseragaman akan penilaian terhadap diri saya…ya, itu tadi JUTEK, judes, galak, dan julukan sejenis…dan saya tak peduli akan hal itu. Apa yang mereka katakan memang benar, karena itu yang mereka lihat.

Tapi saya adalah bagian dari mereka yang menganut paham, bahwa semua itu terjadi pasti ada alasannya, termasuk alasan di balik keberhasilan atau kegagalan saya untuk memunculkan tingkah laku tertentu. Alasan, penyebab, stimulus yang terkadang tak (mau) dilihat oleh orang lain yang berinteraksi dengan saya. Tapi lagi-lagi saya tak peduli apakah orang itu mau melihatnya atau tidak, karena saya cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa untuk memunculkan tingkah laku itu, saya sudah melakukan proses “editing” terlebih dahulu.

“Rawat jalan” saya di Almamater, ternyata cukup membuahkan hasil. Berhasil membuat saya harus menambah masa “rawat jalan” saya sendiri; berhasil membuat saya membuat orang lain akhirnya mengalami “rawat jalan” juga; dan yang terpenting adalah membuat dunia saya jauh semakin berwarna.

Memakai “sepatu” orang lain itu tidak pernah akan bisa sangat nyaman dirasakan (kecuali sepatunya pada akhirnya jadi HM, alias Hak Milik, a.k.a NYOLONG). Karena memang bukan ukurannya, karena memang tidak terbiasa, karena memang itu bukan milik kita sendiri, tapi terkadang kita harus mencoba sesekali, atau bahkan berulang kali, di “sepatu-sepatu” orang yang berbeda.

So why don’t you try to wear my “shoes”? Why don’t you take a look at yourself, before complaining?

And one question for you… Are you still at the same “place” now, or you are already moving forward? If so, why?

I am not him, I am not her. I am what I am, and I have my own way to do what I have to do.

Time will tell at the end of the day.

Terima kasih untuk mereka yang sudah membuat dunia saya jauh semakin berwarna, dengan ikut serta menjadi bagian dalam proses penambahan masa “rawat jalan” saya.

“Written 16th February and will be published on Wednesday, 17th February 2010, at 10.28 a.m”

Bintang Hati dan Malaikat Mautku…(Puisi Singkat #18)

February 16th, 2010

Izinkan aku menyentuh ujung jemarimu, Sayang…
Dari balik penjara hati…
Yang terkunci olehku sendiri…
Kala kunci itu ku berikan padamu…

Kamu…
Bintang hatiku…
Kerikil kecilku…
Dewa penyelamatku…
Dan malaikat mautku…

Byéngsyék, 16 Februari 2010

Gak Sakit, Tapi Mengejutkan…

February 12th, 2010

Ah…kerja di perusahaan retail ternyata ada untungnya, libur di hari biasa, sehingga saya pun tak perlu terlalu repot untuk mengatur jadwal untuk wawancara kalau sedang ada panggilan…wakakakakkakakak…

Dua kali hari Kamis belakangan ini, saya asik-asik sibuk memenuhi panggilan wawancara dari dua perusahaan yang berbeda. Minggu lalu, di salah satu Kantor Akuntan Publik yang sangat terkenal dan minggu ini di salah satu perusahaan Head Hunter. Seingat saya, memang saya pernah melamar di KAP yang satu itu, tapi entah kapan, saya lupa, karena sudah lama sekali; dan untuk si Head Hunter ini, sepertinya saya tak pernah melamar ke perusahaan ini.

Sebenarnya saya malas untuk bepergian, saat saya sedang libur. Tapi saya pikir, demi menjaga nama baik di pasaran, saya pun memenuhi panggilan-panggilan wawancara tersebut. Sekaligus, untuk terus latihan wawancara, menaikkan kemampuan bahasa Inggris saya, dan yang terpenting adalah untuk ngecheck harga pasaran… :mrgreen:

Anyway, seperti hari ini, saya pun memenuhi panggilan wawancara, walaupun dengan tingkat kemalasan yang sangat tinggi untuk beranjak dari rumah. Untunglah, jalanan Jakarta hari ini, sedikit lebih bersahabat. Dalam waktu kurang dari satu setengah jam, saya sudah tiba di bilangan Rasuna Said. Wawancara tidak berlangsung lama, satu jam, dengan tiga orang, yang salah satunya dengan si CEO perusahaan itu. Yang jelas beda deh rasanya wawancara saat saya nothing to loose dibandingkan dengan saat saya belum bekerja, dan sangat butuh untuk diterima. Nothing to loose berarti kalau diterima ya Puji Tuhan, kalau tidak diterima ya sudah, kecuali si KAP ituh, teteup ngarep :lol:

Kebetulan lokasi saya wawancara hari ini, cukup dekat dengan Kawasan Mega Kuningan. Kawasan yang penuh makna dan cerita, dari cerita tolol sampai cerita romantis yang tolol juga. Ditambah dengan pemikiran seperti ini: memutuskan untuk menjadi bagian dari “perusuh” jalanan bersama dengan budak-budak korporasi kebanyakan di jam pulang kantor, adalah hal tolol untuk dilakukan di Jakarta. Jadi, saya pun…

“Ke Starbucks Oakwood aaahh…sumpah dah lama banget nih gue ga nangkring di situ.”

Dulu, saya ke sini karena satu alasan, alasan karena satu orang. Sekarang, untuk banyak alasan, salah satunya menuntaskan rencana yang belum sempat saya lakukan, rencana dengan satu orang, yang masih sama dengan orang yang dulu itu.

Duduk manis di salah satu kursi di teras luar, setelah segelas Iced Caramel Machiatto dan Beef Quiche terhidang menggiurkan di atas meja. Lihat-lihat sekeliling, yang ramai dengan para budak korporasi yang entah sedang rapat atau ngabur dari kejenuhan mereka…

“I really miss this kind of situation.”

Tak lama kemudian saya mengeluarkan satu buku tebal, yang juga sudah berbulan-bulan tidak saya teruskan membacanya…”Rara Mendut”; Mengatur dan mencari posisi wueeennnakk, untuk saya duduk, meraih makanan dan minuman, meraih si Bébé, membaca buku.

Bertwitter-ria, SMS-an, nyruput kopi, memotong serta menyuap Quiche ke dalam mulut, dan membaca, terus-menerus saya lakukan bergantian, sambil sesekali melihat ke sekitar…

Tweet: Eh, ada mas bule ganteng duduk ndirian sambil baca koran di deket gue…”Mas, saya juga sendirian loh.”

SMS: Ke sini ya…gak kangen ama aku? *Ngakak sambil ngunyah menyan* (*Istilah ngunyah menyan gue dapet dari tweet seseorang, yang pas gue baca langsung bikin gue ngakak*)

Kembali membaca, nyruput kopi, clingak-clinguk, kiri kanan. Walaupun saya sudah tahu persis, bahwa seseorang yang saya SMS tadi, tidak akan datang for some reasons.

Kembali mengirimkan SMS: I’m sure u know seberapa besar gengsi gw ama org lain…kali ini gw sendiri yg nginjek2 gengsi sendiri…pls b here even only 4 half an hour…turunin egoisnya kamu kali ini dounks…

…sambil sok tak peduli ke perasaan sendiri, karena rasa gengsi kali ini saya hilangkan.

Tanpa mengharapkan sesuatu hal secara berlebihan, bahkan harapan akan mendapatkan balasan dari SMS yang tadi saya kirimkan, saya pun kembali asik dengan diri sendiri, sampai si Bébé berbunyi…

Dan terteralah di layar berupa pesan singkat dari seseorang. Balasan dari SMS yang saya kirim tadi…

“Sorry baru baca. am otw ke………., sama……….., bla-bla-bla, next time will do for sure Ocha.”

Dan saya pun…Flat…sambil membalasnya:

“Good luck then take care yah…thanks 4 replying.”

Dan saya kembali ke Rara Mendut, sambil mengira tidak akan ada lagi balasan dari yang mengirimi saya SMS tadi.

“thx Ocha. i need that luck badly. U too take good care.”

Dan…sedikit terperangah karena SMS saya masih dibalasnya.

“U can make it, I know u. Btw nice to hear something from u again *lanjutin baca rara mendut n minum caramel machiatto*”

Ketidakhadiran dirinya, tidak membuat saya beranjak dari Starbucks dan langsung pulang…saya kembali membaca dan duduk anteng di sana, sampai sekumpulan nyamuk memangsa kaki saya, kurang lebih setengah jam kemudian.

Tak betah karena si nyamuk, saya pun memutuskan untuk beranjak ke Ranch Market. Mencari titipan si Mama dan bahan olahan yang ingin saya olah sendiri.

Di sana, saya bertemu dengan salah satu teman kantor yang dulu…

“Pa kabar? Kok elo tambah kurus.”

“Seperti biasa, respon semua orang yang dah lama ga ketemu gue pasti bilang kayak gitu.”

“Elo dah selese kuliah?”

“Dah lama kaleee. Dah pindah kerja pulakh.”

“Elo ga mau balik ke almamater?”

“Ada gak? Gue sih mau-mau aja. Jam kantornya seenak jidat jek soalnya, wakakakakkakak.”

“Embbeerr itu pun yang membuat gue males pindah. Btw si itu-tuh, waktu itu dah sempet ditawarin pindah ke bank itu tuh. Bahkan emailnya dah sempet di blok, sempet mental, tapi dia ga jadi pindah, gara-gara di counter offer.”

“Bagus lah, gajinya makin naik dounks.”

“Elo kalo ke sini BBM gue lah. Masih ada khan nama gue di situ?”

“Masih tersimpan dengan rapi.”

Melihat jam di tangan, sudah menunjukkan pukul 19.15, saya pun memutuskan untuk memulai perjalanan ke rumah.

Dan saat di perjalanan pulang, saya melihat ada pesan di BBM saya dari seseorang…

“Kalo elo diminta nulis short blog untuk kerjaan gue sekarang mau ngga?”

terbalas dengan….

“Maaaauuuu.”

Hmm…panjang ya tulisan saya…???

Tapi inti yang ingin saya ceritakan adalah: Jangan mengharapkan sesuatu itu secara berlebihan, karena tak akan menyakitkan kalau hasilnya tak sesuai harapan, tapi kamu akan mendapatkan kejutan jika itu melebihi harapanmu.

Panggilan-panggilan wawancara tersebut, benar-benar melebih ekspektasi saya, apalagi yang di KAP itu :mrgreen: . Mendapatkan respon SMS balasan, dari seseorang yang luar biasa ajaibnya itu juga di luar ekspektasi. Mendapatkan berita tentang salah satu kekasih jaman dulu, tanpa harus meminta, juga termasuk kejadian di luar ekspektasi. Mendapatkan tawaran menulis, saat sekarang saya tak sesering dulu menulis blog, dan tidak ngotot, juga di luar ekspektasi.

Errrr…tapi kenapa tiga hal itu berhubungan dengan lelaki jaman dahulu kala ya?

Eh…tunggu…satu di antaranya beneran CLBK…Cinta Lama Belom Kelar… :mrgreen: wakakakkaka…

Luka Hati…(Puisi Singkat #17)

February 11th, 2010

Seribu langkah untuk satu titik jalanan yang tak berujung…
Bak berjalan di atas catwalk…
Arogansi dan gengsi seribu muka, berhias di diri…
Membungkam dan mendekap bunyi gaduh, yang tak pernah diam…
Prrrraaannnngggggg…
Pecah, hancur, berserak dan tercecer…
Yang tak mampukannya kembali berdiri…
Sebelum ia selesai jahitkan luka hati…

Lagi Jadi Pemulung Hati, 11 Februari 2010

Mari Menuntaskan Yang Belom Kelar…*Looohhh…*

February 5th, 2010

Gue ga pernah bosen untuk bahas topik yang satu ini: kekasih jaman dulu…

Hal yang selalu menarik untuk diperbincangkan saat cewek-cewek kurang kerjaan lagi pada ngumpul, atau setidaknya jadi bahan ketawa-ketiwi sendiri…kayak saat ini.

Gue, cukup seneng bisa mengatakan bahwa gue adalah orang yang beruntung, untuk bisa mempunyai hubungan baik dengan semua kekasih jaman dulu gue. Kekasih dari yang jaman baheula, jaman kuda gigit batu, sampai jaman jahililah. Kadang gue masih tilpun-tilpunan, walau hanya untuk nanyain kabar, atau ngasih berita-berita kecil, baik berita penting atau berita ga penting. Kirim-kiriman SMS, atau kalo lagi ga mau rugi BBM-an, biar gratis.

Mungkin itu semua karena gue selalu memulai hubungan cinta, pasti dari hubungan pertemanan. Ditambah dengan prinsip gue dan (sepertinya) kebetulan prinsip para kekasih jaman dulu gue itu juga, bahwa semua dimulai dan diakhiri dengan pertemanan. Setelah hubungan cinta berakhir, ya urusan romansa dan cinta-cintaannya aja yang ilang, tapi urusan silaturahmi pertemanan ga boleh ilang.

Kayak dua perbincangan terakhir dengan dua kekasih jaman dulu gue itu:

A: eh..eh..eh..gw dapet panggilan interview di …..&….. (*Duuuhh pengen banget nyebutin namanya*) loooohh…hihiiiyyy…wish me luck ya *sambil lumpat kodok*

B: Hwwwaaahhhaaa…keren-keren…

A: Do you know a job as ghostblogger? Ever thought of it?

B: Ha? Menyenangkan sepertinyah.

A: It is, here’s the link.

B: Thanks dear.

A: You should start from something you love. Gue “jual” elo ya.

B: Thanks ya.

See, menyenangkan ‘kan punya kekasih jaman dulu yang masih bisa dijadiin temen?

Karena mereka adalah “aset”, dan kesempatan. Aset untuk bisa dapet temen baru, aset buat dapet pacar baru, aset buat dapet kerjaan baru, dan mungkin aset dapet kesempatan untuk menuntaskan CLBK, yang kata salah satu anak gue di store, CLBK adalah Cinta Lama Belom Kelar :mrgreen:

Makannya gue rempong banget dahh, kalo perempuan-perempuan mereka jaman sekarang rempongnya najish tralalala. Errrr…cuma gue gituh loh…ga perlu dicemburuin ‘kan yah? :mrgreen:

—-

Buat yang kemaren BBM-an ama gue…eh itu beneran gue salah ketik, gue mau munculin Lu? jadinya LuV…walau ya walau salah ketiknya itu ampe 3 kali (*Sapa suruh untuk munculin ? dan V-nya satu tombol*)…

Dan jawaban dari BBM lu yang satu ini: Luv you too deeee…

Boleh ga gue bales dengan: Ke Jogja yukkk…*looohhh* wakakakakkakaka…

—-

Gue yang lagi ga beres, 5 Februari 2010

—-

“Mang elo pernah beres gitu ‘Cha?”