Posts Tagged ‘Cerita Cinta’

Saya, Cinta…

Thursday, February 25th, 2010

Perkenalkan, nama saya Cinta…

Saya makhluk tak berwujud yang paling berkuasa setelah Tuhan…

Duniamu ada di tangan saya…
Karena saya bisa mengubahnya…

Membuatmu menangis…
Lalu tertawa…
Saat ada ataupun tak ada orang lain di sekitarmu…
Semua, hanya dengan satu jentikkan jari saya…

Saya bisa membuatmu mencinta saya…
Saya yang ada di dirinya…
Karena saya membiarkanmu mencintanya…

Dalam hitungan detik, saya bisa membuatmu membenci dia…
Yang sudah membencimu…
Atau bahkan yang masih mencintamu…
Dengan sebuah, seribu atau tanpa alasan sama sekali…

Saya bisa menjadikanmu apa saja…
Malaikat cantik tak bersayap…
Seribu dewa pemaaf…
Kerbau dicucuk hidung…
Atau dedemit bertanduk, lengkap dengan garpu berduri…

Kehidupanmu ada di tangan saya…
Dengan menjadikan harimu penuh semangat…
Harapan dan citamu tergantung di atas surga ke tujuh…
Setinggi gambaran fana dirinya yang tergantung di sana…
Yang ternyata perlu keajaiban tersendiri, untukmu meraihnya…

Jika saya sedang jahil, saya bisa mendatangkan kematian untukmu…
Saat saya bisikkan padanya, bahwa ada saya, Cinta, yang lain di seberang sana…
Saat saya sodorkan seonggok saya, Cinta, yang berbalut daging penuh napsu di hadapannya…
Saat saya membuatnya berbalik arah meninggalkan kamu…
Tanpa alasan…
Tanpa satu gelembung buih liur yang dihasilkan dari rentetan kata yang keluar dari mulutnya…

Saya bisa membuatmu berada di antara sebuah kehidupan dan kematian…
Saat kamu saya butakan dengan dosis saya yang berlebihan…
Saat kamu tak sanggup saksikan dirinya memilih saya, Cinta, yang merasuki orang lain…
Hingga kamu hunuskan belati padanya…
Lalu padamu sendiri…
Yang tak juga mengakhiri hidupmu, apalagi hidupnya…
Jeruji besi hati pun siap terbentang lebar menanti untuk mengurungmu…

Lara, saat fisikmu berada di peluknya, yang kamu miliki…
Tapi saya, Cinta, yang ada di dirimu, adalah milik dia yang tak kamu miliki…

Merana, saat seribu sesal, yang coba kamu hapus…
Tak mengembalikan saya, Cinta, yang terbuang dari hatinya…

Tapi saya, Cinta, akan selalu menjadikanmu dewasa…
Walaupun saya, Cinta, akan selalu merangkul benci dan pahit, untuk ditawarkan padamu…

Dan atas nama saya, Cinta…
Saya akan selalu menghantuimu…
Bersamamu…
Bahkan di hari kematianmu…

…Cinta…

Mari Menuntaskan Yang Belom Kelar…*Looohhh…*

Friday, February 5th, 2010

Gue ga pernah bosen untuk bahas topik yang satu ini: kekasih jaman dulu…

Hal yang selalu menarik untuk diperbincangkan saat cewek-cewek kurang kerjaan lagi pada ngumpul, atau setidaknya jadi bahan ketawa-ketiwi sendiri…kayak saat ini.

Gue, cukup seneng bisa mengatakan bahwa gue adalah orang yang beruntung, untuk bisa mempunyai hubungan baik dengan semua kekasih jaman dulu gue. Kekasih dari yang jaman baheula, jaman kuda gigit batu, sampai jaman jahililah. Kadang gue masih tilpun-tilpunan, walau hanya untuk nanyain kabar, atau ngasih berita-berita kecil, baik berita penting atau berita ga penting. Kirim-kiriman SMS, atau kalo lagi ga mau rugi BBM-an, biar gratis.

Mungkin itu semua karena gue selalu memulai hubungan cinta, pasti dari hubungan pertemanan. Ditambah dengan prinsip gue dan (sepertinya) kebetulan prinsip para kekasih jaman dulu gue itu juga, bahwa semua dimulai dan diakhiri dengan pertemanan. Setelah hubungan cinta berakhir, ya urusan romansa dan cinta-cintaannya aja yang ilang, tapi urusan silaturahmi pertemanan ga boleh ilang.

Kayak dua perbincangan terakhir dengan dua kekasih jaman dulu gue itu:

A: eh..eh..eh..gw dapet panggilan interview di …..&….. (*Duuuhh pengen banget nyebutin namanya*) loooohh…hihiiiyyy…wish me luck ya *sambil lumpat kodok*

B: Hwwwaaahhhaaa…keren-keren…

A: Do you know a job as ghostblogger? Ever thought of it?

B: Ha? Menyenangkan sepertinyah.

A: It is, here’s the link.

B: Thanks dear.

A: You should start from something you love. Gue “jual” elo ya.

B: Thanks ya.

See, menyenangkan ‘kan punya kekasih jaman dulu yang masih bisa dijadiin temen?

Karena mereka adalah “aset”, dan kesempatan. Aset untuk bisa dapet temen baru, aset buat dapet pacar baru, aset buat dapet kerjaan baru, dan mungkin aset dapet kesempatan untuk menuntaskan CLBK, yang kata salah satu anak gue di store, CLBK adalah Cinta Lama Belom Kelar :mrgreen:

Makannya gue rempong banget dahh, kalo perempuan-perempuan mereka jaman sekarang rempongnya najish tralalala. Errrr…cuma gue gituh loh…ga perlu dicemburuin ‘kan yah? :mrgreen:

—-

Buat yang kemaren BBM-an ama gue…eh itu beneran gue salah ketik, gue mau munculin Lu? jadinya LuV…walau ya walau salah ketiknya itu ampe 3 kali (*Sapa suruh untuk munculin ? dan V-nya satu tombol*)…

Dan jawaban dari BBM lu yang satu ini: Luv you too deeee…

Boleh ga gue bales dengan: Ke Jogja yukkk…*looohhh* wakakakakkakaka…

—-

Gue yang lagi ga beres, 5 Februari 2010

—-

“Mang elo pernah beres gitu ‘Cha?”

Macem Mana Lagi Ini?…

Friday, October 30th, 2009

Kamu lihat perempuan itu, Teman?

Apa yang kamu lihat dari luar? Seorang perempuan yang tegar, centil, selalu ceria, supel, tak pernah kesepian?

Memang sekilas perempuan satu itu, tampak tak pernah kekurangan teman, kekurangan laki-laki, kekurangan cinta. Lelaki mana yang tak rela mengantri untuk mendapat hatinya, atau bahkan mendapatkan secuil perhatiannya saja? Dari segi fisik, perempuan itu jelas di atas rata-rata, atau setidaknya itu menurutku. Otaknya yang pandai, juga perlu diacungi jempol. Belum lagi ia pandai bergaul.

Terus terang, aku kagum terhadapnya. Bisa-bisanya, ia menyembunyikan luka hati yang sudah tercabik-cabik, tidak hanya dengan silet atau pisau, tapi tak tahu benda tajam apa lagi itu namanya yang bisa tega menjadikan hatinya seperti itu.

Asal kamu tahu, Teman, perempuan itu tak mudah untuk jatuh cinta. Sama sekali tidak. Tapi sekalinya ia berada di lembah nista yang berjudul jatuh cinta itu, ia mungkin rela meletakkan hatinya di atas bara api.

Seperti saat ini. Masih saja ia belum jera mencinta laki-laki super gebleg. Bahkan jauh lebih gebleg daripada laki-laki terakhirnya.

Sumpah aku gemes banget melihat perempuan itu. Rasanya ingin sekali aku tampar kedua pipinya, agar ia terbangun dan sadar diri. Hatinya masih layak mendapatkan kastil yang jauh lebih indah daripada yang saat ini hatinya berada.

Ingin sekali aku berteriak di depan wajahnya…

Dasar masokis! Mana ada yang mau bercinta sama tembok?

Cukup…

Thursday, October 15th, 2009

Kekasih-kekasih itu rela meringkuk di bawah ketiak lelaki-lelaki mereka…

Yang tanpa terkecuali, selalu tercium wangi oleh hidung mereka…

Sodoran puting payudara kekasih-kekasih itu adalah menu makanan harian para lelaki mereka…

Tersaji tanpa upah…

Tak peduli caci lacur dari mulut tetangga…

Karena semua tidak untuk sentuh tubuh mereka…

Bukan untuk umbar napsu yang siap diledakkan…

Mereka hanya ingin memakai cadar itu lagi…

Cadar tipis yang mampu membuat mereka merasa dicinta…

Untuk telinga yang mendengar kata cinta, dan bukan erangan maut…

Walau hanya untuk saat itu, hanya di sana…

Hanya dan cuma…

Tak ada lain waktu…

Karena mereka tahu bahwa mereka hanya butuh itu…

Cukup…

Walau itu hanya bayang semu…

Nan indah…

Nan getir…

Penuh perih dan siksa…

Tapi lagi-lagi, itu semua…

Cukup…

Tapi kapankah kekasih-kekasih itu bisa memberikan ini…

Plaaaakkk!!…

Pada pipi-pipi kekasih-kekasih itu sendiri…

Sadarkan dari bayang semu yang tak terlihat…

Kalau akhirnya yang mereka inginkan hanya ilusi cinta…

Dan itu semua…

Cukup…

—-

Written during lunch time…published at 18:28 pm.

Kan Cintanya Ke Kamu Beda Ama Cintanya Ke Dia…

Thursday, October 15th, 2009

Cinta tak harus memiliki?

Klise, basi, sebuah penyangkalan, atau akan menimbulkan sebuah amarah?

Kalian pernah tidak menemukan kasus seseorang merasa cinta ke seseorang tapi ia lebih memilih/menikahnya dengan orang lain yang pastinya bukan yang ia cintai? Dan kalian tahu persis, persis, persis bahwa orang tersebut tidak mencintai sepenuh hati pasangannya. Hal ini biasanya dikarenakan saat mereka pacaran terbentur alasan-alasan prinsipil yang membuat mereka mundur teratur dan menyerah pada keadaan, walaupun keadaan itu bukan berasal dari mereka sendiri.

Yang menjadi gongnya adalah saat mereka bertemu atau berinteraksi lagi, mereka masih menggunakan cara bicara yang sama, menggunakan istilah-istilah atau gaya bercanda yang seperti dulu bahkan hanya mereka berdua yang tahu, masih mengucapkan “I Love You” setiap menyudahi telepon, bahkan mereka rela berbohong pada pasangannya, untuk menghindari rasa cemburu si pasangannya. Dan mereka berdua tahu, bahwa semuanya itu malahan dilakukan, diucapkan lebih tulus daripada saat mereka masih bersama dulu.

Kalau saya ditanya, apakah saya pernah menemui kasus-kasus seperti itu, saya akan jawab, ya, bahkan tidak hanya satu atau dua pasangan. Dan dari sana, mulai muncullah pertanyaan-pertanyaan ini di otak saya…

  • Apakah itu lebih kejam daripada sebuah perselingkuhan fisik? Saya akan jawab tidak (tahu) (*Cari aman* :lol: ), tapi tetap mereka mengerti batasan-batasan yang benar-benar tak boleh mereka langgar.
  • Apakah itu adil untuk pasangannya yang sekarang? Kalau saya pribadi akan jawab: Tidak adil.
  • Apakah cinta ada tingkatannya atau levelnya, atau bisa berubah-berubah skala prioritasnya dan tergantung situasi? Apalagi jika pelaku yang kepergok, ditanyai alasannya dan memberi jawaban: “Cintanya ke kamu ‘kan beda ama rasa cintanya aku ke dia,” Kalau saya pribadi membedakan antara rasa suka, rasa sayang dan rasa cinta. Cinta inilah bagi saya berada di tingkatan paling atas.

Tapi yang jelas, bagi saya sendiri, saya tidak pernah menyesali bahwa saya kehilangan sesuatu, karena pada akhirnya saya akan lebih memiliki kehilangan saya sebelumnya.

—-

“Situ pusing? Ndak papa, yang nulis juga sering pusing sendiri.”

—-

For someone from someone: I made my promise that my love to you is much bigger than my love to him, hopefully that you do the same thing…

The Weddings…

Sunday, October 11th, 2009

Di tengah kondisi perut yang tak kunjung membaik, hari Jumat kemarin, saya yang memaksakan diri untuk ke kantor, tiba-tiba mendapatkan sebuah telepon dari rumah…

“Mbak…”

“Loh, siapa nih?”

Dan suara di seberang sana menyebutkan nama adik sepupu saya yang Sabtu kemarin menikah.

“Kamu, kok besok mau nikah malah jalan-jalan.”

“Gak pake pingit-pingitan, Mbak.”

“Iya ya, jaman sekarang ‘ra usah pingit-pingitan barang yo.”

“Mbak…”

“Apa?”

“Besok bagi suara indahnya boleh nggak?”

“Duh, mudah-mudahan bisa ya. Dari dua hari lalu perutku ngga keruan je rasanya. Mual, eneg, kembung. Tak usahain ya besok bisa nyanyi. Lagu apa? Pas kapan?”

“Di gereja, pas akhir-akhir misa kok.”

“Jadi ga banyak yang merhatiin lah ya.”

“Iya, Mbak.”

“Ya wes, doain biar besok gue sehat yah.”

Dan Sabtu paginya, saya yang sebenarnya masih merasakan mual tak terkira, tetap harus melunasi janji saya untuk melantunkan satu lagu permintaan si adik sepupu. Ya mudah-mudahan derita perut ini tidak semakin Sempurna, saat harus menyanyikan lagu itu nanti.

Pelunasan janji, ternyata cukup lancar. Perut saya bisa diajak kompromi selama menghadari perayaan penerimaan Sakramen Pernikahan dan resepsi pernikahannya setelah itu.

Namun kondisi perut saya yang membaik, tidak berlangsung lama. Saat di perjalanan pulang dan saya harus mengendarai mobil, saya kembali merasa lemas dan haus, sampai-sampai saya memutuskan untuk berhenti mencari minuman penambah ion di mini market yang dilewati. Dan setelah dari sana, ayah saya yang kemudian mengambil alih mengendarai mobil hingga sampai di rumah.

Sesampainya saya di rumah, tanpa basa-basi saya langsung mengambil kunci kamar ibu, berganti pakaian dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidur.

Perut semakin parah. Seolah-olah ada puting beliung yang berputar-putar di dalam perut dan tak bisa keluar.

“Anjriiittt..nih perut ga sembuh-sembuh ya. Kata sapa gue diet?”

Ahhh…lagi-lagi tentang diet, saya mendapat komentar dari salah satu adik dari ibu, yang sudah lama tak melihat saya…

“Sa, kamu kok kurus banget.”

“Masakh? Lah beratnya sama tuch. Gak naik gak turun.”

“Kekurusan kamu.”

“Efek baju ini. Aku pake item. Lah dulu si mama juga cungkring kan?!”

“Kamu diet ya?”

“Gak…ngapain juga diet?”

Dan dalam hati…”Diet sih ngga…males makan kadang-kadang, apalagi kalo dah ngemil, berasa dah makan nasi hihihihi.”

Kembali ke urusan perut. Berbaring di kamar ternyata tidak meredakan kondisi perut saya. Puncaknya adalah saya terserang diare, hingga kehabisan cairan tubuh dan lemas. Saya memang sengaja tidak langsung meminum obat. Pada dasarnya saya malas minum obat, dan alasan kedua adalah saya membiarkan semua racun dalam perut bisa keluar, walaupun diare ini melelahkan juga, karena harus bolak-balik ke kamar mandi, hingga lebih dari 10 kali.

Setelah pertempuran saya dan kamar mandi yang kesekiankalinya, saya pun kembali berbaring di kamar ibu. Kebetulan ibu juga sedah leyeh-leyeh di sana…

“Ma, bikinin oralit dong atau beliin Pocari.”

Tanpa sadar saya pun malah tertidur, dan hanya ingat saat saya disodorkan ujung sedotan, untuk meminum cairan yang rasanya saya hafal betul. Cairan ini bisa dikatakan adalah teman saya sedari kecil. Dari saat saya terkena DBD, serangan maag akut pertama kali, hingga sekarang. Dari rasanya yang masih tak enak, sampai sekarang sudah dimodifikasi dengan rasa jeruk. Bisa tebak tak cairan apa? Hehehe…oralit, walaupun banyak minuman penambah ion ataupun pengganti cairan tubuh, tapi bubuk oralit ini memang selalu ada di rumah, karena kalau minuman-minuman ion lainnya, tak mungkin bisa bertahan lama di dalam lemari pendingin.

Dari saat saya tertidur hingga pagi hari, perut ini ternyata tidak menuntut kembali berteman dengan kamar mandi, dan saya pun bisa tidur nyenyak. Dan ketika saya bangun pagi, saya pun langsung di sambut dengan sebuah pertanyaan…

“Kamu ikut ke kawinan yang hari ini?”

“Hyaaahhh…masih ada kawinan yah?”

“Masih sakit perut?”

“Mangsur-mangsur sih dah ngga. Mual lagi tapi ini, liat bentar lagi deh, aku kuat ikut atau ngga.”

Anyway…talking about wedding…dan karena banyaknya undangan perkawinan bulan Oktober ini, saya teringat cerita seseorang. Dan kira-kira beginilah percakapan saya dengan orang tersebut…

“Cuy…”

“Apa?”

“Kemaren gue nemenin yayank gue ke kawinan anak supirnya.”

“Loh, bukannya elo kemaren disuruh emak lu nganter ke mana gitu ya?”

“Gak jadi. Gue akhirnya nemenin yayank gue.”

“Bentar deh. Yayank lu masih sama? Yang umurnya beda jauh ama elu itu bukan sih?”

“Ho oh.”

“Trus?”

“Ya lucu sih. Betawi abis, terus agak ribet nyari rumahnya. Laki gue lupa-lupa inget jalannya ke sana gituh. Berhubung gue cacat baca peta, sempet nyasar gituh, hahaha, tapi pas gue kasih liat petanya ke laki gue ternyata apa yang gue baca sama gitu ama yang dia baca. Ternyata petanya salah gambar, Cuy.”

“Gebleggg…trus-trus ngapain lagih.”

“Ya di sana cuma duduk, nyemil-nyemil, dibeliin teh botol pulakh.”

“Buset, di kawinan ada teh botol?”

“Yoi. Laki gue ga suka minum air putih.”

“Elo pake baju apa? Gak yang ribet dounks ya bouw.”

“Jeans gelap ama baju kotak-kotak Zara yang dibeliin laki gue, sepatu teplek.”

“Bagus…gue kira elo bakal pake baju ribet.”

“Ya ga mungkin lah.”

“Trus ngapain lagi?”

“Ya di sana gue banyakan ngobrol ama laki gue. Ngga ada yang gue kenal juga gituh. Tapi nih ya, Cuy, yang paling lucu waktu gue mau pamit pulang. Bininya supir si yayank tau-tau bilang gini ama gue…”Iya makasih ya Mbak Intan, dah mau dateng ke kawinan anak saya,” dan elo tau khan Intan itu adalah…”

“Anaknya laki lu? Bentar-bentar gue guling-gulingan ketawa dulu, hahahahaha.”

“Yooooiiii…”

“Lah dia belom pernah liat Intan?”

“Belom sih sepertinya, kalo dia manggil gue Intan.”

“Gak papa lah, berarti elo awet muda, Jek.”

“Hehehe, laki gue sih dah bilang ama gue pas berangkat, paling ntar kamu disangka Intan.”

Kembali ke acara hari ini, akhirnya saya memutuskan untuk ikut ke Penerimaan Sakramen pernikahan anaknya tetangga saya, yang kebetulan God Mother-nya adalah ibu saya sendiri, yang diselenggarakan hari ini.

Dan sepulangnya dari acara kawinan hari ini, kembali perut saya mual tak terkira.

“Sepertinya derita perut ini belum berakhir hari ini.”

Eh, tapi dari seluruh rangkaian acara perkawinan yang saya datangi minggu ini, saya terbebas dari pertanyaan…

“Kapan nyusul?”

Mungkin mereka sudah bosan mendengar jawaban saya…

“Kapan-kapan, kalo mau.”

Yang lain kali, mungkin akan saya tambahkan dengan jawaban…

“Kalo bisa malah ada laki yang bisa ada hari ini, besok ga ada. Ntar kalo gue mau, bisa ada lagi, gue capekh ngurusin, gue pulangin ke rumah emaknya dulu. Intinya capekh + bikin pusing ngurusin laki.”

—-

“Untuk newly weds…congratulations ya…your life has just begun my dear Sista…gak gampang Jek, ngurusin laki, apalagi kalo lakinya super stubborn, dah stubborn terus…” (*Loh, kok malah berniat curcol? Hahahaha LOL*)

What? Ndak Boleh?…

Sunday, September 27th, 2009

Hidup di zaman yang sudah sangat berbeda dan dengan segala macam perkembangannya, memang membuat manusia-manusia berbeda generasi sulit untuk beradaptasi. Termasuk saya dengan ibu dan juga sebaliknya. Tak jarang masalah gagalnya kami beradaptasi satu dengan yang lain, membuat kami menjadi cranky tak karuan.

Salah satu masalah adalah hal-hal tabu, tak elok, tak pantas saya, selaku anak perempuan (paling kecil pula) lakukan. Dan, seperti biasanya, hal-hal yang dianggap tabu oleh orang tua, sering tidak masuk di akal, bahkan aneh menurut saya. Parahnya, hihihi kadang malah hal itu menjadi sebuah hal yang membuat saya penasaran, kenapa sampai dikategorikan sebagai hal tabu.

Cerita saya di bawah ini adalah contoh yang dari awal saya dilarang, saya sudah memberontak dalam pikiran, dan mulailah malah merancang tindakan “kriminal” :mrgreen: .

“Anak perempuan ga pantes main ke rumah cowok. Masakh cewek duluan.”

“Whhhhhaaatttt? Apa sihhh? Bentar…kenapa? Apa yang salah? Even cuma temen gitu?” yang semuanya itu hanya ada di otak saya. Tak mungkin sepertinya semua itu saya keluarkan. Bisa panjang urusannya.

Bukan Ocha kalau yang namanya larangan malahan menjadi sebuah tantangan. Semakin dilarang semakin penasaran, kecuali kalau saya sudah terantuk dengan resiko yang pada akhirnya saya anggap masuk akal terhadap larangan tersebut.

Kunjungan pertama (atau setidaknya yang saya ingat sebagai yang pertama) saya ke rumah teman laki-laki saat saya kelas 3 SMP. Saat itu saya dan beberapa teman lainnya ingin…(*Bentar gue ketawa dulu, alesannya norak n klise banget ini soalnya*),…ingin menyalin catatan seorang teman yang lengkap untuk ulangan beberapa hari kemudian (*God, I still remember that?*). Tapi dasar ABGeh, di sana tak ada satu pun dari kami yang menyentuh buku, malahan kami berjalan beramai-ramai menuju AMPM untuk beli makanan, lalu kembali ke rumah dan kongkow-kongkow di sana. Dan untuk saya pribadi, saya mempunyai alasan tersendiri mengapa saya ke sana saat itu, apalagi kalau bukan urusan meng-entertain dunia cinta permonyetan ABGeh (baca: PE-DE-KA-TE).

Plesiran saya hari itu, pasti membuat saya menjadi pulang terlambat sampai di rumah. Bahkan seingat saya, malahan saya mendatangi kantor ayah, dan pulang bersama beliau.

Sampai rumah, sudah pasti saya diinterogasi oleh ibu. Dan pastinya juga saya tidak mengakui sepenuhnya kegiatan yang membuat saya pulang terlambat hari itu.

“Ke rumah temen, nyatet catetan yang ketinggalan.”

Untungnya ibu tidak menanyakan lebih lanjut ke rumah teman yang seperti apa saya tadi pergi.

Itu yang pertama. Selanjutnya masih ke rumah orang yang sama, dan kali ini dengan tujuan lebih spesifik; sebelum resmi pacaran, ya dalam rangka PE-DE-KA-TE, dan setelah resmi pacaran, ya pacaran di sana, kadang bersama dengan beberapa teman, kadang saya sendirian. Dan pasti di rumahnya ada orang lain selain dirinya.

Lucunya, saat saya dengan dirinya sudah tidak lagi pacaran, sempat saya dan beberapa teman berkunjung ke rumahnya, untuk kongkow-kongkow tak jelas. Saya ke rumahnya itu siang hari, setelah paginya saya pergi dengan salah satu abang saya. Kebetulan saat pulang ke rumah, rutenya pasti melewati rumahnya ini. Saya pun minta dituruni oleh si abang yang mengendari mobil, tepat di depan rumah si mantan pacar.

Melihat si abang yang tak pulang bersama saya, kontan ibu langsung menanyakan keberadaan saya.

“Rosa mana?”

“Tadi turun di rumah…,” yang pastinya si abang saya menyebutkan nama mantan pacar saya.

“Ngapain?”

“Maen paling.”

Sudah bisa dibayangkan ‘kan ya, bagaimana interogasi si ibu sesampainya saya di rumah?

“Bla, bla, bla, bla…”

“………….” saya pun diam membisu, sambil bicara dalam hati “Yah, Ma, telat banget deh marahinnya. Dah sering kaleee.”

Saya yang tak mendapatkan alasan bahwa larangan itu masuk akal (jika dibandingkan dengan kemampuan saya untuk jaga diri), maka saya pun tak repot untuk urusan yang satu itu. Apalagi semakin beranjak dewasa (*Haallaaagggghh*), saya sudah semakin bisa memisahkan mana yang baik untuk saya lakukan mana yang tidak (*Hihihi, tapi tergantung godaan juga sih*). Bahkan beberapa kali saya sempat menginap di rumah teman saya yang laki-laki (*Cattteeett!! TEMEENN!!*).

Pertama kali, saat malam tahun baru 2003, saya dan teman-teman satu divisi merayakannya di salah satu rumah teman saya yang saat itu sudah menikah. Kedua, saat saya dan teman-teman kuliah terpaksa menginap di rumah teman saya, untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah keparat. Ketiga, akhir tahun lalu, saat saya dan tiga orang gila bermain kartu sampai pagi, dan kesanggupan fisik ini untuk berjalan ke rumah orang gila lainnya, sudah tak memungkinkan. Dan yang terakhir, awal tahun ini, saat saya terpaksa menginap, karena sesi curhat dan “rapat konspirasi” saya dan dua orang gila lainnya baru selesai jam 2 pagi, dan jarak antara rumah 2 orang gila itu (yang kebetulan saat itu masih berada dalam satu kompleks dan satu cluster) dengan rumah saya sungguh jauh…

“Eh elo nginep kan ‘Cha?”

“Liat ntar, kalo ntar ngobrol-ngobrol kita cepet, ya salah satu dari kalian nganter gue pulang lah ya. Jagorawi-JORR nanti maleman pasti dah sepi,” yang saya tahu persis pernyataan itu adalah pernyataan retoris.

“Dah lahh, ga usah pulang lu. Gue capekh nih, gak kesian lu ama gue yang perlu cerita-cerita.”

Dan ternyata benar. Duduk di ruang makan itu, berhadap-hadapan dengan jam dinding yang saat itu saya lihat sudah lebih dari jam 12.00 malam, rasanya tak mungkin salah satu dari mereka mengantarkan saya pulang, karena mereka esok harinya harus bekerja.

“Untung gue bawa baju. Ngobrol ama kalian ga pernah sebentar.”

Jam dinding yang sudah menunjukkan angka 02.00, terpaksa menyudahi obrolan kami saat itu…

“Dah, si Ocha nginep rumah kamu aja ya, kalo nginep sini ga aman dia,” ucap salah satu orang gila yang rumahnya kami jadikan tempat “rapat konspirasi”.

“I know, di sini gue ga bakal selamet,” saya menimpali ucapan tadi sambil bercanda, yang dilanjutkan dengan ucapan “Tapi di rumah lu gue tidur mana? Kamar lu kan atu lagi jadi gudang,” sembari melihat ke arah orang gila lainnya.

“Di kamar bawah aja, bertiga ama anak gue,” dan kalimat itu membuat saya sedih, karena biasanya kalau saya menginap di sana, kami tidur berempat di kamar yang sama. Tapi saat itu, satu orang (yang gila juga) sedang tidak bisa berada di sana, karena sedang dirawat di rumah sakit.

“Okay. Jadinya gue bisa slamet pulang besok, daripada kalo di sini,” sambil saya menjulurkan lidah ke arah si gila satunya.

(*Geeezzz…sekitar gue isinya orang gila semua ternyata. Termasuk gue sih sepertinyah.*)

Anyway…setelah menjabarkan cerita penting sampai cerita colongan yang benang merahnya jauh dari inti cerita, saya hanya ingin katakan bahwa, kadang hal-hal yang dianggap tabu untuk dilakukan, itu tidak begitu adanya, tidak perlu dianggap sebagai hal yang tabu. Tidak ada yang salah untuk perempuan bertandang ke rumah teman laki-laki, atau bahkan ke rumah pacar sekalipun.

Setelah saya pikir-pikir, mungkin ini semua berkaitan dengan adat Jawa konservatif. Perempuan harus pasif, nrimo, tak boleh nduluin, harus nunggu, bisa jadi buah cibir oleh orang yang melihatnya. But harrreee gggeeennneee? Who cares? At least I don’t, atau setidaknya setahu saya mereka yang saya datangi rumahnya tak berpikiran demikian.

Mungkin yang bisa dikatakan salah adalah kegiatan yang dilakukan di rumah tersebut. Kalau untuk urusan yang satu ini, mau bertandang ke rumah perempuan ataupun laki-laki, kalau melakukan kegiatan yang aneh-aneh, lalu tidak bisa bertanggung jawab, ya tetap salah.

Intinya, selama kita bisa jaga diri, ya tak masalah ‘kan ya? (*Ssssttt…sama satu lagi, main aman!* :lol: )

Dan untuk para orang tua apalagi yang produk jaman dulu banget, “Ya, kalo ngasi tau sesuatu itu pake alasan make sense gitu loh. Jangan cuma asal ga boleh. Trus hehehe larangan itu bisa jadi tantangan untuk si anak looo!”

Lalu, hmmm bukan sok menggurui, saya cuma pengen ngomong usahakan “Stay away from drugs and free sex.

Untuk urusan free sex itu, memang urusan masing-masing pada akhirnya, kalau memang sudah dipikirkan masak-masak dan akhirnya menjadi pilihan yang diambil untuk dilakukan sebelum menikah, ya stay save aja ya. Jangan sampai aborsi jadi pilihan dan penyakit aneh-aneh jadi teman hidup.

Errr…Kita Sekarang Udah…Berapa Lama?

Tuesday, September 22nd, 2009

“Yay, hari ini kita sebulanan.”

“Ga berasa ya kita dah 6 bulan pacaran.”

“Iya ini bunga untuk kamu, 9 tangkai white roses yang nandain dah 9 bulan kita jadian.”

Hahahaha, lucu! Jadi ingat pacaran waktu masa-masa jauh lebih muda dulu. Sepertinya tanggal jadian itu adalah hal yang sangat, sangat, sangat penting.

Mengingat-ingat dan merayakan moment saat si pasangan menyatakan sayang, cinta, dan meminta untuk menjadikan pasangan lainnya kekasih hatinya adalah (mungkin) suatu keharusan untuk pasangan yang berpacaran.

Terus terang, saya dulu juga begitu. Setidaknya saat saya pacaran di masa-masa ABGeh. Kebetulan masa-masa pacaran saat ABGeh yang paling nyangkut di otak, adalah masa-masa pacaran waktu SMA. Dari awal kelas 1 hingga akhir kelas 3, dengan satu orang yang sama (buat yang bersangkutan, kalau baca tulisan ini, jangan GR ya cuy!). Dan hingga detik ini, saya masih ingat persis detil kejadian dari masa Pe-De-Ka-Te hingga tanggal itu, 23 Desember 1994.

Ya, namanya ABGeh, ditambah saat itu masa Pe-De-Ka-Te yang kami berdua jalani tidak sebentar, yaitu 11 bulan, pastilah urusan “peringatan” ulang bulan tanggal kami resmi pacaran menjadi hal yang cukup penting, setidaknya untuk saya saat itu.

Sebenarnya antara norakh, lucu dan lumayan penting sih, kalau dipikir-pikir saat ini.

Norakh karena…”Pentingggg yaaa kalo dirayain apalagi kalo secara berlebihan, dan merupakan KEHARUSAN?” baiklah memang untuk sebagian orang moment itu wajib diingat atau dirayakan, mungkin dalam rangka mengingat-ingat bahwa mereka sudah sekian lama menjalani waktu kebersamaan mereka, tapi errr…kalau saya pribadi, kalau masih dalam hitungan bulan, tidak terlalu penting sih untuk wajib dirayakan, apalagi kalau pakai upacara khusus. Akan lebih terasa kalau perayaan tanggal jadian itu setelah sekian tahun, naaahh…baru tuh…mak nyus.

Lucu karena…hehehehe…ya itu, biasanya kalau mengingat sudah sekian lama saya pacaran dengan sang kekasih, pikiran inilah yang muncul di otak “Annnjjjrrriiittt, betah juga ya gue ama orang macem dia,” atau “Kasian juga manusia itu ngurusin gue, hahahahaha.”

Lumayan penting, atau penting, eh bisa jadi sangat penting sih sebenarnya, kalau hal yang ingin diingat adalah usaha untuk mempertahankan rasa sayang atau (di kasta yang lebih tinggi) rasa cinta, kesetiaan, kepercayaan, dan menikmati setiap hal sekecil apapun selama waktu berjalan. Menikmati setiap tawa, canda, tangis, berantem, marah, maki-maki, egoisme masing-masing, rasa cemburu, kekesalan, peluk, cium, make love (*Lohhh? Ga ya? Becanda! LOL*), plesiran, dan masih banyak lagi.

Jadi, ya begitulah pendapat saya tentang pentingnya tanggal resmi pacaran, atau tanggal jadian.

Dan setelah tanggal 23 Desember 1994, hahahaha saya tidak pernah punya tanggal khusus jadian, karena memang tidak ada tanggal resminya. We just need(ed) to know that we love each other. Tapi kalau diingat-ingat kembali sih, akhir tahun adalah masa-masa keberuntungan saya, karena saya dan kekasih hati, benar-benar berani menyatakan diri bahwa kami cinta satu sama lain di bulan-bulan menjelang akhir tahun. Let’s see…September, November, 23 Desember 1994, Desember lagi, September dan 3 Desember errr…tahunnya tak perlu diberitahukan lah ya. Dan yang terakhir ini sedikit pengecualian, memang tumben, terutama dalam kamus saya menjalin cinta setelah melewati masa ABGeh, yang tak perlu tanggal resmi pacaran, karena memang selain dirinya menyatakan that He loves me, ia juga meminta saya untuk menjadi kekasihnya (*Btw, masih ampe sekarang tak ya? LOL!!!*).

“Hon, kita sekarang udah…”

“Errrr…sorry sebenernya aku lupa, dah berapa lama kita pacaran? Masih ya?”

“Tapi yang jelas Hon, I love you!”

It Was Just Wrong…

Saturday, September 19th, 2009

Akhirnya libur!! Bayangan tumpukan buku yang belum selesai saya baca, DVD yang belum sempat saya tonton, dan ide psycho story lainnya yang sudah menari-nari di kepala, sudah ada sejak awal minggu ini. Benar-benar tak sabar untuk bisa menikmati mereka semua.

Jumat! Akhirnya, tak perlu bangun pagi. Tak perlu pergi ke kantor. Dan kebingungan dimulai saat jam 10.00 pagi saya terpaksa bangun, karena dibangunkan oleh Mama…

“DVD, Buku atau Nulis?”

“Nooo…no writing I guess. Still got a headache because of Ramelan and Laras. They make me more psycho then as usual.”

“So DVD I guess.”

Beberapa hari lalu, memang saya menyempatkan diri untuk membeli DVD film yang tidak sempat saya tonton di bioskop, termasuk Benjamin Button. Saya ingat betul film itu beredar di bioskop di Jakarta, sekitar bulan Februari tahun ini. Dan bulan Februari itu adalah bulan menuh makna, di mana saya harus menyelesaikan kewajiban akhir saya yang saat itu masih berstatus mahasiswa.

Jadi, siang kemarin, setelah beres dengan urusan baby sitting all my children, a.k.a my lovely dogs (*Yay got 1 more, so they are 8 now, even Boomer is going to be here only for couple of days*), saya menuju kamar dan melihat kembali DVD apa saja yang akan saya “santap” selama liburan.

And here’s the list: Benjamin Button, He’s Just Not That Into You, Crossing Over, Hangover, State of Play, yang merupakan DVD yang baru saya beli beberapa hari lalu; sedangkan DVD yang sudah saya beli dari zaman baheula, tapi belum saya tonton juga adalah Schindler’s List, The Condemned, Premonition, The Holiday, Music and Lyrics.

Ya, ya, ya you can tell me saya ketinggalan banyak film. Jangan tanya kenapa, karena kalau diceritakan pasti tulisan saya yang kali ini benar-benar hanya sampah curhatan tak penting dan tak bermutu, akan lebih panjang.

Film pertama yang saya tonton pastinya, Benjamin Button. Si ganteng Brad Pitt, yang meninggal saat ia bertubuh bayi di dalam gendongan teman hidupnya sendiri. Quote dari film tersebut yang saya ingat sampai sekarang adalah “We all end up with diapers,” and that fuckin’ damn right.

Bosan berkutat di kamar, akhirnya saya menuruni anak tangga dan menuju labuhan hati saya lainnya, piano. I was playing it and singing some songs. Then, fed my children up for dinner, cause they all looked hungry and beg for some foods again, hahahaha (*Naughty kids! Yet so lovely.*).

Lalu saya kembali ke kamar saya. Memilih-milih kembali DVD yang akan saya tonton kali ini.

Dan pilihannya jatuh pada film Music and Lyrics. I know this is such a romantic film drama, gonna make me mellow, but what else? Schindler’s List or State of Play at nite? Dooohh…no way!

But…I chose wrong film to be watched. Damnnnn!!!!

Jiwa mellow meningkat malam ini. Remembering someone who I miss so much. Di tambah di film itu si Sophie dan Alex di satu mobil yang sama dengan mobil seseorang yang ada di benak saya.

Parah!! Menghidupkan kembali si Ocha yang melankolis. And the worst one is this film ruined my mood to write my second psycho story (*Come on mood..back to my head!!*).

Dan lagu ini, ooohh…lagu ini liriknya…duuuhh…(*Lihat sendiri deh ya*)…


I’ve been living with a shadow overhead, 
I’ve been sleeping with a cloud above my bed, 
I’ve been lonely for so long, 
Trapped in the past, 
I just can’t seem to move on! 

I’ve been hiding all my hopes and dreams away, 
Just in case I ever need them again someday, 
I’ve been setting aside time, 
To clear a little space in the corners of my mind! 

All I wanna do is find a way back into love. 
I can’t make it through without a way back into love.
Oooooh. 

I’ve been watching but the stars refuse to shine, 
I’ve been searching but I just don’t see the signs, 
I know that it’s out there, 
There’s got to be something for my soul somewhere! 

I’ve been looking for someone to she’d some light, 
Not somebody just to get me through the night, 
I could use some direction, 
And I’m open to your suggestions. 

All I wanna do is find a way back into love. 
I can’t make it through without a way back into love. 
And if I open my heart again, 
I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end! 

There are moments when I don’t know if it’s real 
Or if anybody feels the way I feel 
I need inspiration 
Not just another negotiation 

All I wanna do is find a way back into love, 
I can’t make it through without a way back into love, 
And if I open my heart to you, 
I’m hoping you’ll show me what to do, 
And if you help me to start again, 
You know that I’ll be there for you in the end!

Di Antara 1 dan 4 Cinta (Epilog)…

Wednesday, September 16th, 2009

Disclaimer: Cerita Ini Hanya Cocok Dibaca Oleh Mereka Yang Berusia 18 Tahun Ke Atas

Baca cerita sebelumnya, Di Antara 1 dan 4 Cinta (6)

___

Kamar itu masih menyita perhatian banyak orang. Termasuk polisi yang  heboh hilir mudik memeriksa apapun yang ada di sana. Mengumpulkan barang bukti, mencari sidik jari, dan benda apapun yang bisa mengarahkan kepada pelaku dan motif usaha pembunuhan terhadap Ramelan, tunangan Laras.

Tamu-tamu hotel, ramai membicarakan usaha pembunuhan yang terjadi di kamar 1203 itu.

“Polisi menemukan 3 lembar kertas kecil sobekan memo hotel, di dekat pintu kamar, dan dengan tulisan tangan yang berbeda-beda.”

“Oh, ya?”

“Isi tulisannya apa?”

“Yang pertama isinya ungkapan cinta bahwa orang yang menulisnya itu masih mencintai si korban. Satu lagi cuma bilang neither do I or She get you, kalo ga salah denger tadi. Terus yang terakhir ancaman menggagalkan perkawinan korban dengan tunangannya.”

“Ampuunn deh, serem bener dengernya.”

“Duuhhh…walau ga sampe meninggal, tapi tetep ngeri ya.”

***

Dan perempuan itu kembali duduk di sana. Di tempat yang sama, seperti beberapa hari lalu.

Aku kembali menatap ke arah lift yang berada di ujung lobi hotel tempat aku menginap. Aku melihatnya keluar dari lift itu lagi. Ia tak lagi berjalan gagah, melainkan terbaring di atas tempat tidur dorong yang berasal dari ambulans yang sudah menunggunya di depan pintu lobi. Ia juga tak ditemani perempuan muda, bertubuh langsing, dan cantik, yang sama seperti waktu itu.

Aku duduk di sana, dengan selembar kertas di tangan. Selembar kertas yang berisikan diagnosa hasil konsultasi seseorang dengan Psikiater yang mengatakan bahwa pasien yang namanya tertera di kertas itu, dinyatakan mempunyai tiga alter ego, dan mengalami gangguan kejiwaan halusinasi.

Dan nama pasien yang tertera di situ adalah Lintang Kirana Larasati.

—-

end