Posts Tagged ‘Langkah Kaki’

Till We Meet Again In Heaven, Baby…

Thursday, March 4th, 2010

Kurang lebih seminggu ini, saya diminta belajar (lagi) bagaimana menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

Satu hal yang paling saya tidak suka dari memelihara binatang adalah saat saya harus melihat mereka sakit, menghadapi sakratul maut dan pulang ke rumah Tuhan. Itu adalah masa-masa penyiksaan batin bagi saya sendiri. Tersiksa karena melihat dan mendengar mereka merintih kesakitan. Tersiksa karena dilema apa yang harus saya perbuat, apakah harus ke dokter yang most likely mereka akan menyarankan untuk menidurkan bayi-bayi lucu itu (apalagi jika mereka memang sudah tua), atau memutuskan untuk merawat mereka di rumah dengan penuh cinta sampai ajal menjemput mereka.

Saat mereka merintih sakit, tak hanya dia yang merasakan, tapi saya, dan seluruh keluarga juga merasakan rintihannya. Bagaimana tidak, ia sudah tak bisa makan dengan enak. Makanannya harus dilembutkan, dan kami hantar ke mulutnya dengan menggunakan semacam suntikan yang berujung seperti pipet. Kami harus mendirikannya, karena ia tak sanggup lagi untuk berdiri sendiri, bahkan di menjelang ajalnya, kami harus membersihkan kotoran pup atau urin yang ia keluarkan spontan di tempat.

Sudah puluhan tahun biasa memelihara anjing, kami tahu persis, bagaimana kondisi mereka jika sudah mendekati ajal. Begitu pun juga saya, yang sudah mengetahui saat Rambo sudah dekat. Prediksi saya, paling lambat besok, itupun dia pasti akan menunggu saya sepulang kantor. Tak tahu kenapa, atau setidaknya empat anjing saya yang meninggal terakhir, pasti menunggu saya pulang ke rumah. Oleh sebab itu, hari ini saya bela-belain menemani Rambo sepanjang hari. Nyaris saya tak beranjak dari teras depan rumah, tempat “singgasana” si ganteng, nan cerdas, campuran German Shepherd dan Chow-Chow ini.

Saya hanya duduk di sampingnya, mengelus-elus tubuh dan wajahnya yang sudah sangat lemah, sesekali membersihkan badannya dan duburnya dengan tissue basah, sembari bernyanyi dan juga bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang pernah saya/keluarga dan Rambo lalui selama 12 tahun kami hidup bersama. Hal itu membuatnya terlihat manja, Rambo sama sekali tak mau ditinggal, bahkan saat saya berlari ke dalam rumah untuk mengangkat telepon, ia sudah meraung-raung menangis tak mau ditinggal. Tentunya, itu membuat saya langsung kembali bersamanya.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.30, dan saya belum makan siang. Saya bicara dengan Rambo, “Nak, Mimi makan siang dulu ya, belum makan siang nih, ditinggal sebentar ya, Embo mau mamam? Mi siapin?” Rambo pun hanya mengedipkan mata.

Dari dalam sembari makan saya mendengar Rambo tetap merintih minta ditemani. Namun seselesainya saya makan, saya tak langsung menemaninya lagi. Badan ini masih lelah, karena berhari-hari tak bisa tidur nyenyak merawat Rambo, bergantian dengan Mama, bahkan kami harus bangun saat subuh, kalau Rambo melonglong minta ditemani atau minta dibersihkan karena ia mengompol atau pup di tempat.

Akhirnya kurang lebih pukul 17.00, saya kembali memeriksa kondisinya. Ternyata ia masih meraung-raung, dan pup. Saya berlari ke dalam sebentar, karena tisu basah yang sudah saya siapkan di dekatnya sudah habis. Saat saya selesai mengelapnya, saya pun membersihkan lantai sekitarnya. Sedetik setelah saya letakkan pengki yang berisi sampah koran bekas yang juga digunakan untuk alas tidur Rambo, saya melihat ke arahnya dan dia sudah mengompol lagi. Lalu tak tahu mengapa, seperti ada yang meminta saya untuk melihat ke arah wajahnya, yang ternyata sudah bernapas satu-satu, dan perutnya sudah tidak mengembung dan mengempis, seperti adanya sebuah pernapasan.

Saya pun berlari ke arahnya…

“Rambo, Ayank dah mau pulang ya? Ma kasih wa, dah nemenin mimi 12 taun. Sekarang Mimi temenin pulang wa. Dah ketemu sapa aja? Chopin? Cello? Astor? Pluto? Bozo? Titip salam ya Nak, yuk putus ya napasnya, enakkan di surga loh Nak. Nanti kalo mimi mati, Embo jemput mimi wa? I love you, Honey, so much, ampe ketemu nanti wa,” dan saya pun mencium keningnya. Dan Rambo tidur dengan tenang tanpa rasa sakit sedikit pun.

Dan hari ini, tidak ada tangis saat Rambo pergi. Tak seperti hari-hari kemarin saat ia masih merintih kesakitan, air mata ini sempat mengalir, deras.

Saya pun langsung menelepon si Abang…

“Woi, di mana lu?”

“Kenapa lu? Laper?”

“Kagak, di mane?”

“Depan kompleks.”

“Buruan! Pemakaman.”

“Ooohh dah pulang? Thank God.”

“Buruan, keburu gelap.”

Terus terang, tanah itu sudah tergali semenjak hari Minggu lalu. Lagi-lagi, karena keluarga kami sudah tahu persis kondisi saat anjing-anjing kami sudah mendekati ajal, saat ke dokter pun, kami pasti akan mendapatkan respon sebuah sakit hati. Dan hari ini, tanah galian itu sudah kembali tertutup dengan tubuh bayiku, Rambo yang sudah tidur tenang, ada di dalamnya.

Kembali mereka mengajarkan saya, sebuah kesetiaan tiada tara, sebuah cinta tanpa syarat samaaaaa sekaaalliii, bagaimana harus menghargai sebuah kehidupan dan mensyukuri sebuah kematian.

“Ma kasih wa Mbo…untuk 12 tahun yang sangat menyenangkan, maap kalo Mi sering telat ngasi mam, inget tadi waktu kita ngobrol, waktu mata Embo kinclong natap mata Mi, I Love You so much, jemput Mi nanti pas Mi mati wa.”

*seeebbbbeeellll mau upload foto bayi lucuku si Rambo, blog lagi ga bisa upload foto, DAMN*

*eh bisa liat foto bayiku, si Rambo dan teman-temannya itu di sini*

Ulang Tahun Yang Tertunda?

Monday, February 22nd, 2010

….met utang lawoon yaa ciw….

Ribuan detik kuhabisi
Jalanan lengang kutentang
Oh, gelapnya, tiada yang buka
Adakah dunia mengerti?

Miliaran panah jarak kita
Tak jua tumbuh sayapku
Satu-satunya cara yang ada
Gelombang tuk ku bicara

Tahanlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Untuk dia yang terjaga menantiku

Tengah malamnya lewat sudah
Tiada kejutan tersisa
Aku terlunta, tanpa sarana
Saluran tuk ku bicara

Jangan berjalan, Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku

Mundurlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s’lalu membara
Untuk dia yang terjaga
Menantiku

was sent by someone to my e-mail…at 21st February 2010 at 2.00 a.m…


…It was late, but still it was something for me…thank u Darling for this one…

Pain In The Ass That Rings You A Bell…

Thursday, February 18th, 2010

Birthday is like pain in the ass…

When you still can not forgive yourself, for the mistakes you made…

If you still have something you wish not happened to your life…

If you don’t feel blessed…

Birthday is like ring a bell…

It reminds you that you are getting older…

It reminds you that you should grow up…

It reminds you that you should getting wiser…

It reminds you that you should stop whining and complaining every time you find troubles in your life.

It reminds you that you have to decide whether you want to pass the “test” and step forward to next level or stand still at the same one…

One thing for sure, I try not to complain, stop the unnecessary whining, and step forward to get higher level of life that God has prepared for me…cause I’m getting closer to my own grave every single day…

Thank you for all birthday wishes for me…

Especially for someone who sent it for the first time…*Surprisingly that you were the first one*

(written as the original one)

“happy birthday Ocha. wishing you only d best years and years ahead,” was sent on Thursday, 18th February 2010, at 01.27.22 a.m

Gak Sakit, Tapi Mengejutkan…

Friday, February 12th, 2010

Ah…kerja di perusahaan retail ternyata ada untungnya, libur di hari biasa, sehingga saya pun tak perlu terlalu repot untuk mengatur jadwal untuk wawancara kalau sedang ada panggilan…wakakakakkakakak…

Dua kali hari Kamis belakangan ini, saya asik-asik sibuk memenuhi panggilan wawancara dari dua perusahaan yang berbeda. Minggu lalu, di salah satu Kantor Akuntan Publik yang sangat terkenal dan minggu ini di salah satu perusahaan Head Hunter. Seingat saya, memang saya pernah melamar di KAP yang satu itu, tapi entah kapan, saya lupa, karena sudah lama sekali; dan untuk si Head Hunter ini, sepertinya saya tak pernah melamar ke perusahaan ini.

Sebenarnya saya malas untuk bepergian, saat saya sedang libur. Tapi saya pikir, demi menjaga nama baik di pasaran, saya pun memenuhi panggilan-panggilan wawancara tersebut. Sekaligus, untuk terus latihan wawancara, menaikkan kemampuan bahasa Inggris saya, dan yang terpenting adalah untuk ngecheck harga pasaran… :mrgreen:

Anyway, seperti hari ini, saya pun memenuhi panggilan wawancara, walaupun dengan tingkat kemalasan yang sangat tinggi untuk beranjak dari rumah. Untunglah, jalanan Jakarta hari ini, sedikit lebih bersahabat. Dalam waktu kurang dari satu setengah jam, saya sudah tiba di bilangan Rasuna Said. Wawancara tidak berlangsung lama, satu jam, dengan tiga orang, yang salah satunya dengan si CEO perusahaan itu. Yang jelas beda deh rasanya wawancara saat saya nothing to loose dibandingkan dengan saat saya belum bekerja, dan sangat butuh untuk diterima. Nothing to loose berarti kalau diterima ya Puji Tuhan, kalau tidak diterima ya sudah, kecuali si KAP ituh, teteup ngarep :lol:

Kebetulan lokasi saya wawancara hari ini, cukup dekat dengan Kawasan Mega Kuningan. Kawasan yang penuh makna dan cerita, dari cerita tolol sampai cerita romantis yang tolol juga. Ditambah dengan pemikiran seperti ini: memutuskan untuk menjadi bagian dari “perusuh” jalanan bersama dengan budak-budak korporasi kebanyakan di jam pulang kantor, adalah hal tolol untuk dilakukan di Jakarta. Jadi, saya pun…

“Ke Starbucks Oakwood aaahh…sumpah dah lama banget nih gue ga nangkring di situ.”

Dulu, saya ke sini karena satu alasan, alasan karena satu orang. Sekarang, untuk banyak alasan, salah satunya menuntaskan rencana yang belum sempat saya lakukan, rencana dengan satu orang, yang masih sama dengan orang yang dulu itu.

Duduk manis di salah satu kursi di teras luar, setelah segelas Iced Caramel Machiatto dan Beef Quiche terhidang menggiurkan di atas meja. Lihat-lihat sekeliling, yang ramai dengan para budak korporasi yang entah sedang rapat atau ngabur dari kejenuhan mereka…

“I really miss this kind of situation.”

Tak lama kemudian saya mengeluarkan satu buku tebal, yang juga sudah berbulan-bulan tidak saya teruskan membacanya…”Rara Mendut”; Mengatur dan mencari posisi wueeennnakk, untuk saya duduk, meraih makanan dan minuman, meraih si Bébé, membaca buku.

Bertwitter-ria, SMS-an, nyruput kopi, memotong serta menyuap Quiche ke dalam mulut, dan membaca, terus-menerus saya lakukan bergantian, sambil sesekali melihat ke sekitar…

Tweet: Eh, ada mas bule ganteng duduk ndirian sambil baca koran di deket gue…”Mas, saya juga sendirian loh.”

SMS: Ke sini ya…gak kangen ama aku? *Ngakak sambil ngunyah menyan* (*Istilah ngunyah menyan gue dapet dari tweet seseorang, yang pas gue baca langsung bikin gue ngakak*)

Kembali membaca, nyruput kopi, clingak-clinguk, kiri kanan. Walaupun saya sudah tahu persis, bahwa seseorang yang saya SMS tadi, tidak akan datang for some reasons.

Kembali mengirimkan SMS: I’m sure u know seberapa besar gengsi gw ama org lain…kali ini gw sendiri yg nginjek2 gengsi sendiri…pls b here even only 4 half an hour…turunin egoisnya kamu kali ini dounks…

…sambil sok tak peduli ke perasaan sendiri, karena rasa gengsi kali ini saya hilangkan.

Tanpa mengharapkan sesuatu hal secara berlebihan, bahkan harapan akan mendapatkan balasan dari SMS yang tadi saya kirimkan, saya pun kembali asik dengan diri sendiri, sampai si Bébé berbunyi…

Dan terteralah di layar berupa pesan singkat dari seseorang. Balasan dari SMS yang saya kirim tadi…

“Sorry baru baca. am otw ke………., sama……….., bla-bla-bla, next time will do for sure Ocha.”

Dan saya pun…Flat…sambil membalasnya:

“Good luck then take care yah…thanks 4 replying.”

Dan saya kembali ke Rara Mendut, sambil mengira tidak akan ada lagi balasan dari yang mengirimi saya SMS tadi.

“thx Ocha. i need that luck badly. U too take good care.”

Dan…sedikit terperangah karena SMS saya masih dibalasnya.

“U can make it, I know u. Btw nice to hear something from u again *lanjutin baca rara mendut n minum caramel machiatto*”

Ketidakhadiran dirinya, tidak membuat saya beranjak dari Starbucks dan langsung pulang…saya kembali membaca dan duduk anteng di sana, sampai sekumpulan nyamuk memangsa kaki saya, kurang lebih setengah jam kemudian.

Tak betah karena si nyamuk, saya pun memutuskan untuk beranjak ke Ranch Market. Mencari titipan si Mama dan bahan olahan yang ingin saya olah sendiri.

Di sana, saya bertemu dengan salah satu teman kantor yang dulu…

“Pa kabar? Kok elo tambah kurus.”

“Seperti biasa, respon semua orang yang dah lama ga ketemu gue pasti bilang kayak gitu.”

“Elo dah selese kuliah?”

“Dah lama kaleee. Dah pindah kerja pulakh.”

“Elo ga mau balik ke almamater?”

“Ada gak? Gue sih mau-mau aja. Jam kantornya seenak jidat jek soalnya, wakakakakkakak.”

“Embbeerr itu pun yang membuat gue males pindah. Btw si itu-tuh, waktu itu dah sempet ditawarin pindah ke bank itu tuh. Bahkan emailnya dah sempet di blok, sempet mental, tapi dia ga jadi pindah, gara-gara di counter offer.”

“Bagus lah, gajinya makin naik dounks.”

“Elo kalo ke sini BBM gue lah. Masih ada khan nama gue di situ?”

“Masih tersimpan dengan rapi.”

Melihat jam di tangan, sudah menunjukkan pukul 19.15, saya pun memutuskan untuk memulai perjalanan ke rumah.

Dan saat di perjalanan pulang, saya melihat ada pesan di BBM saya dari seseorang…

“Kalo elo diminta nulis short blog untuk kerjaan gue sekarang mau ngga?”

terbalas dengan….

“Maaaauuuu.”

Hmm…panjang ya tulisan saya…???

Tapi inti yang ingin saya ceritakan adalah: Jangan mengharapkan sesuatu itu secara berlebihan, karena tak akan menyakitkan kalau hasilnya tak sesuai harapan, tapi kamu akan mendapatkan kejutan jika itu melebihi harapanmu.

Panggilan-panggilan wawancara tersebut, benar-benar melebih ekspektasi saya, apalagi yang di KAP itu :mrgreen: . Mendapatkan respon SMS balasan, dari seseorang yang luar biasa ajaibnya itu juga di luar ekspektasi. Mendapatkan berita tentang salah satu kekasih jaman dulu, tanpa harus meminta, juga termasuk kejadian di luar ekspektasi. Mendapatkan tawaran menulis, saat sekarang saya tak sesering dulu menulis blog, dan tidak ngotot, juga di luar ekspektasi.

Errrr…tapi kenapa tiga hal itu berhubungan dengan lelaki jaman dahulu kala ya?

Eh…tunggu…satu di antaranya beneran CLBK…Cinta Lama Belom Kelar… :mrgreen: wakakakkaka…

Mari Menuntaskan Yang Belom Kelar…*Looohhh…*

Friday, February 5th, 2010

Gue ga pernah bosen untuk bahas topik yang satu ini: kekasih jaman dulu…

Hal yang selalu menarik untuk diperbincangkan saat cewek-cewek kurang kerjaan lagi pada ngumpul, atau setidaknya jadi bahan ketawa-ketiwi sendiri…kayak saat ini.

Gue, cukup seneng bisa mengatakan bahwa gue adalah orang yang beruntung, untuk bisa mempunyai hubungan baik dengan semua kekasih jaman dulu gue. Kekasih dari yang jaman baheula, jaman kuda gigit batu, sampai jaman jahililah. Kadang gue masih tilpun-tilpunan, walau hanya untuk nanyain kabar, atau ngasih berita-berita kecil, baik berita penting atau berita ga penting. Kirim-kiriman SMS, atau kalo lagi ga mau rugi BBM-an, biar gratis.

Mungkin itu semua karena gue selalu memulai hubungan cinta, pasti dari hubungan pertemanan. Ditambah dengan prinsip gue dan (sepertinya) kebetulan prinsip para kekasih jaman dulu gue itu juga, bahwa semua dimulai dan diakhiri dengan pertemanan. Setelah hubungan cinta berakhir, ya urusan romansa dan cinta-cintaannya aja yang ilang, tapi urusan silaturahmi pertemanan ga boleh ilang.

Kayak dua perbincangan terakhir dengan dua kekasih jaman dulu gue itu:

A: eh..eh..eh..gw dapet panggilan interview di …..&….. (*Duuuhh pengen banget nyebutin namanya*) loooohh…hihiiiyyy…wish me luck ya *sambil lumpat kodok*

B: Hwwwaaahhhaaa…keren-keren…

A: Do you know a job as ghostblogger? Ever thought of it?

B: Ha? Menyenangkan sepertinyah.

A: It is, here’s the link.

B: Thanks dear.

A: You should start from something you love. Gue “jual” elo ya.

B: Thanks ya.

See, menyenangkan ‘kan punya kekasih jaman dulu yang masih bisa dijadiin temen?

Karena mereka adalah “aset”, dan kesempatan. Aset untuk bisa dapet temen baru, aset buat dapet pacar baru, aset buat dapet kerjaan baru, dan mungkin aset dapet kesempatan untuk menuntaskan CLBK, yang kata salah satu anak gue di store, CLBK adalah Cinta Lama Belom Kelar :mrgreen:

Makannya gue rempong banget dahh, kalo perempuan-perempuan mereka jaman sekarang rempongnya najish tralalala. Errrr…cuma gue gituh loh…ga perlu dicemburuin ‘kan yah? :mrgreen:

—-

Buat yang kemaren BBM-an ama gue…eh itu beneran gue salah ketik, gue mau munculin Lu? jadinya LuV…walau ya walau salah ketiknya itu ampe 3 kali (*Sapa suruh untuk munculin ? dan V-nya satu tombol*)…

Dan jawaban dari BBM lu yang satu ini: Luv you too deeee…

Boleh ga gue bales dengan: Ke Jogja yukkk…*looohhh* wakakakakkakaka…

—-

Gue yang lagi ga beres, 5 Februari 2010

—-

“Mang elo pernah beres gitu ‘Cha?”

Kerinduan…

Saturday, January 30th, 2010

Duduk memandangi air yang berjatuhan dari langit, diiringi pengamen yang bernyanyi lagu jawa tentang Jogjakarta sambil memainkan gitar dengan bagusnya, membuat saya ingin pulang ke Jogja.

Hah…ntah mengapa, kota yang satu ini sering membuat saya rindu untuk kembali ke sana.

Bingung sebenarnya kalau ditanya: “Mbak, orang mana? Asli mana,” yang tak mungkin saya jawab dengan jawaban singkat.

“Saya aslinya lahir Jakarta, tapi orang tua Jawa, tapi Mama campuran Jawa-Manado.”

Dan biasanya diikuti dengan timbulnya pertanyaan-pertanyaan tambahan…

“Jawa-nya mana?”

“Jogja. Tapi dari pihak Mama tinggalnya di Magelang.”

“Jogja-nya di daerah mana?”

Terus terang nih, kalau sudah ditanya urusan Jogjanya di daerah mana, saya tambah bingung menjawabnya. Jadi biasanya saya jawab dengan hasil cerita masa kecil yang biasa diutarakan oleh Papa…

“Awalnya Klitren. Terus pindah ke daerah deket Taman Siswa.”

Yupe…Klitren itu rumah si Eyang, yang sayangnya tak pernah saya lihat. Menurut cerita Papa, itu rumah guuueeedddeeee banget, saking besarnya, rumah itu sempat dijadikan biara susteran, setelah Eyang memutuskan menjual rumah tersebut dan pindah ke daerah Taman Siswa. Dan hingga ajal, kedua Eyang saya masih menempati rumah yang ada di daerah dekat Taman Siswa itu.

Sewaktu saya SD hingga SMP, kami sekeluarga masih sering berkunjung ke Jogja, setidaknya hingga saya kelas 2 SMP, saat Eyang Putri masih ada. Tapi setelah kedua orang tua papa sudah meninggal, kami makin jarang ke sana.

Urusan jalan-jalan di Jogja, tak lepas dari duduk lesehan di emperan Malioboro menikmati burung dara; menikmati gudeg Jogja, seturunnya kami dari kereta di Stasiun Yogyakarta, lalu naik becak ke rumah si almarhum adik Papa, yang dulu ada di daerah Baciro; makan Lotek di depan Radio Gerenimo; menikmati jajanan di Pasar Beringhardjo; naik andong. Dan satu hal yang tak pernah saya lupakan, menonton Pretty Woman di 21 bareng sepupu-sepupu saya.

Sepuluh tahun terakhir, Jogja, hanya saya jadikan tempat transit, dan itu pun bukan untuk hal yang menyenangkan. Tiga kali singgah di Jogja, ketiganya berurusan dengan layatan kematian.

Tahun 2000, saya dan Papa pergi naik kereta ke Jogja untuk melayat Opa di Magelang. Itu juga karena kami berdua tidak dapat tiket pesawat terbang, sedangkan Mama sudah pergi terlebih dulu ke Magelang. Tapi seingat saya, ritual turun kereta makan gudeg subuh-subuh, dan mbecak ke rumah si Oom, tetap saya lakukan dengan si Papa. Setelah pemakaman si Opa, saya dan Papa kembali ke Jogja, karena besok paginya saya harus pulang ke Jakarta, naik kereta SENDIRIAN (waktu itu saya senang sekali, pertama kali menempuh perjalanan jauh dengan kereta, tanpa ada pihak keluarga menemani).

Tahun 2005, adik Papa, tiba-tiba sakit dan tak lama kemudian meninggal. Saya, yang tadinya hanya berniat mengantarkan Mama dan Papa ke bandara, akhirnya berubah pikiran…

“Eh, Pa, aku terbang juga deh ke Jogja. Mobil tinggal sini dulu, ntar malem aku pulang.”

Jadilah saya hanya beberapa jam di Jogja. Dan saya ingat betul sesampainya saya di sana, saya seneeennnggg banget bisa melihat kota itu lagi, walaupun saat itu Jogja sedang dilanda sengatan sinar matahari sangat dahsyat panasnya.

September 2007, saya terbang ke Jogja, untuk menghadiri 40 hari kematian Oma di Magelang. Lagi-lagi saya hanya beberapa jam berada di Jogja; hanya saat datang dari Jakarta dan kembali ke Jakarta.

Errrr…Talking about Jogja…kisah cinta saya dengan seseorang, juga bermula di (perjalanan menuju) Jogja. Kalau diingat-ingat, itu adalah perjalanan yang menyenangkan…

Dan itu semua semakin membuat saya rindu Jogja…

Best Advice For Me #1…

Saturday, January 16th, 2010

“No need to worry, you have everything! Kamu punya kerjaan bagus, punya duit, bisa kemana-mana ndirian, bisa ngelakuin apa aja. Don’t be insecure! Just Stay Gold!!!”

By RH, 8 years ago…

Gaya, Cantik, Asli, Gak Malu-Maluin…

Tuesday, January 5th, 2010

Perempuan mana sih yang tidak suka tampil gaya dan cantik?

Apapun caranya, setiap perempuan ingin tampil cantik, mempunyai gaya tersendiri, dan enak dilihat oleh orang lain. Ada yang mengandalkan riasan wajah dan ada pula yang mengandalkan busana. Yah, walaupun keduanya adalah hal yang mampu membuat si perempuan merelakan sebagian kecil, bahkan sebagian besar, penghasilannya sendiri, atau penghasilan pasangannya sebagai modal berpenampilan aduhai setiap harinya.

Saya, sebagai perempuan (yang kebetulan hanya urusan hardware dan casing-nya), termasuk sangat peduli untuk urusan penampilan. Tapi andalan saya bukan di urusan rias wajah, melainkan busana dan printilan fesyen yang saya gunakan tiap hari.

Riasan wajah hanya akan menempel lengkap di wajah saya, saat saya akan pergi ke pesta, terutama pesta pernikahan. Sedangkan riasan harian, saya hanya mengandalkan pelembab wajah Seaweed dari The Body Shop, dan bedak tabur, Marcks, buatan Kimia Farma, yang harganya kurang dari Rp.10.000 yang kebetulan dianjurkan dokter kulit saya. Jadi bisa dibilang, penghasilan saya tidak akan banyak “lari” ke peralatan dan perlengkapan tata rias wajah. Produk dari The Body Shop dan Revlon, yang mendominasi koleksi peralatan dan perlengkapan tata rias wajah saya, cukup awet, dan bahkan ada yang akhirnya saya relakan untuk dibuang, karena takut sudah terlalu lama, dan sudah tidak laik pakai.

Lain produk make up, lain pula urusan fesyen dan printilannya. Yang satu ini, terus terang cukup “menyiksa” penghasilan saya, walaupun saat ini, saya sudah lebih bisa menahan diri untuk belanja ina-ini-itu yang sangat-sangat tidak penting. Tapi teteup benda tidak penting (saat ini) kadang pun terbeli. Dan saat-saat paling menyiksa adalah tengah tahun dan akhir tahun, di mana pesta diskon digelar beramai-ramai. Termasuk merek-merek andalan Mango, Zara, (X) SML, Invio, dan G2000.

Dan hari terakhir di tahun 2009 lalu, saya pun merelakan sekian gaji saya terlempar ke butik yang saya sebutkan di atas.

Tema perburuan hari itu adalah outfit untuk ngantor, karena saya sudah mulai bosan dengan koleksi baju kantor saya.

Perburuan dimulai dari Plaza Semanggi, karena saya tahu di sana ada butik Invio dan gerai G2000, yang saat ini masih jadi andalan saya mencari baju-baju untuk ngantor. Satu sih yang jelas, mengapa saya memilih dua merek itu, karena ada ukuran saya, si skinny ini. Dan modelnya yang dikeluarkan oleh dua merek tersebut, masih bisa saya katakan cocok untuk digunakan ngantor di toko saat ini. Karena belum kembali diizinkan Tuhan sebagai penghuni gedung-gedung perkantoran megah di daerah Sudirman dan sekitarnya, jadi, koleksi seperti Zara Woman, Raoul, belum saatnya saya jadikan koleksi pakaian ngantor, walaupun koleksi Mango Suit sudah ada yang tergantung di gantungan pakaian di kamar saya.

Tapi dari butik-butik andalan saya mencari baju ngantor, saya hanya membeli 1 kemeja kotak-kotak merah di Invio, dari harga Rp.368.000 menjadi Rp.184.000. Dan karena saya berpikir, “Ngecek Mango ahhh.”

Selesai sudah urusan belanja-belanji akhir tahun? Gak mungkin, lah wong saat saya melirik jam tangan, masih jam 11.00 pagi.

Perburuan dilanjutkan ke Plaza Senayan. Ada Mango, ada Zara. Walaupun ada pusat perbelanjaan lain seperti Grand Indonesia dan Pondok Indah Mall, di mana dua butik Spanyol itu ada. Tapi tak tahu kenapa Plaza Senayan tetap menjadi pilihan nyaman saya untuk belanja.

Setelah beberapa putaran, mengitari dan melihat-lihat di Zara, saya bisa terselamatkan dari tentengan belanjaan di butik ini.

Tapi tidak di Mango. Padahal saya hampir putus asa saat mengitari Mango. Mungkin karena display barang diskon yang banyak dan sedikit terlihat lebih berantakan, biasanya membuat saya sedikit kehilangan mood belanja.

“Dem, gue lagi nyari celana ini, kok ga ada yang bagus ya. 34-nya kemana semua ya? Jangan bilang dah abis, ini kok yang ada yang gede-gede sih, 38, 40, yang kecil maneee,” kira-kira itu perbincangan saya dengan diri sendiri, sampai saya berbincang dengan penjaga butik…

“Mbak, ukurannya tinggal yang di sini?”

“Iya.”

Kembali berbincang dengan diri sendiri…

“Denial, kayak baru sekali belanja ke Mango, ya kalo diskon ukurannya cuma yang dipajang, Cung!”

Dan kembali saya menggeser-geser deretan celana panjang yang tergantung di sana…

“Eh, nih dia nih yang waktu itu gue incer, masih ada pula 34 nya. Yang waktu itu kacrut harganya, 1 jeti lebih. Sekarang berapa ya? Eh, kok jadi 399 ya, tapi kok kayaknya kegedean. Coba dulu ah.”

Sambil menuju ruang ganti, saya kembali menggeser deretan gantungan celana di sana, dan…

“Jrit, Mango Casual Sport pulakh ini. Berapa sekarang? What 179 dari 600 rebu lebih? Coba juga aaahh.”

Dan saat mencoba…

“Weiitss…pas niy, tapi nih kaki kepanjangan deh,” lalu saya pun sambil masih mengenakan celana yang saya coba, keluar dari ruang coba, untuk melihat jatuh si celana itu, karena di depan deretan ruang coba di Mango, terdapat satu cermin besar tak ada potongannya dari ujung ke ujung tembok.

Kebetulan di sana ada pramuniaga yang menjaga…

“Mbak, masih bisa alter celana ga sih?”

“Masih.”

“Tapi lama ya, 2 minggu?”

“Gak kok, paling 4 harian.”

“Mau dounks mbak yang ini bisa khan dipotongin, kalo ga potongin di sini, ntar modelnya ilang.”

Yupe…dan 400 ribu pun sudah bisa dipastikan masuk ke POS kasir si Mango.

Berikutnya si Mango Casual Sport Wear. Saya pun berharap, jatuhnya si celana yang satu ini tidak bagus. Tapi harapan saya ternyata tidak terwujud. Celana warna kakis, berbahan kordorai halus dan berpinggang tinggi, ini pun jatuh manis di kaki saya.

Kembali saya keluar dari kamar coba, dan bertanya pada si pramuniaga…

“Mbak ini khan modelnya agak lebar di bawah ya, ga lurus. Terus bawahnya tekukan celananya ga biasa kayak celana lain, kalo dipotongin modelnya masih sama ga?”

“Bentar saya coba tekuk dulu ya, sesuai dengan panjang kaki, Mbak.”

Pramuniaga itu pun kembali mengukur panjang celana yang disesuaikan dengan panjang kaki saya…

“Masih bisa nih Mbak, modelnya ga ilang kok.”

Dan, sudah tahu ya apa yang terjadi kemudian? Hahahaha…Dua celana tersebut berhasil saya bawa pulang, setelah nanti selesai divermak.

Saya pun berkata dalam hati…”Puas gue belanja hari ini.”

Cerita saya selesai sampai sini? Belum… :mrgreen:

Mungkin di antara teman-teman yang baca cerita ini, ada yang berkata dalam hati…”Sombong, sampai nunjukkin harganya segala.”

Saya akan jawab, “Terserah ya mikirnya apa.”

Tapi sebenarnya yang saya ingin tunjukkan di sini adalah, belanja di butik mahal itu bisa juga jadi murah, asal pintar memilih barang, waktu dan disesuaikan dengan keuangan + kebutuhan (klasik sih memang).

Dan hal yang lebih penting lagi, bagi saya pribadi, orisinalitas produk adalah suatu hal yang penting. Pertama, penghargaan terhadap karya seseorang; Kedua, jika produk asli tidak sanggup dibeli, ya tidak perlu mencari produk serupa tapi tidak asli, atau KW 1, KW 2 atau KW berapa pun. Lebih baik cari barang asli, dengan harga yang terjangkau, atau menunggu datangnya program diskon untuk barang-barang yang memang sangat mahal. Dari perburuan program diskon, saya pernah loh mendapatkan rok jeans Oakley dari harga Rp.1.200.000 menjadi Rp.200.000, sack dress berbahan wool Mango Suit dari Rp.1.100.000 menjadi Rp.800.000, sackdress Mango Sport Casual Wear dari Rp.800.000 menjadi Rp.600.000 (*Eh, yang dua terakhir ini ga pake duit gue ndiri ding, ada yang sukarela belanjain* :lol: ), sackdress hitam Zara dari Rp.700.000an menjadi Rp.300.000an, sackdress hitam Mango dari Rp.700.000an menjadi Rp.200.000an, overall skirt Mango Jeans dari Rp.700.000an menjadi Rp.300.000an, high heels Zara dari harga Rp.800.000an menjadi Rp.300.000an, Guess hand bag dari Rp.800.000an menjadi Rp.300.000an, dan belanjaan yang terakhir, celana panjang Mango Suit dari harga kisaran 1 juta, menjadi Rp.399.000 dan celana Mango Sport Casual Wear dari kisaran harga Rp.600.000 menjadi Rp.179.000. Dan jangan salah, saya pernah iseng masuk ke butik Raoul saat diskon, banyak loh koleksi mereka yang dijual dengan harga Rp.300.000an, walaupun saat itu saya tidak membelinya, karena saya masih kuliah;  Ketiga, barang asli memang biasanya mahal, tapi kualitasnya juga pasti berbeda, setidaknya dari ketahanan barang tersebut, jadi urusan awet (yang harus didukung dengan kondisi penyimpanan dan pemeliharaan), biasanya tidak perlu diragukan lagi, kecuali kalau ukuran tubuh kita yang mengalami perubahan; Keempat, jangan pernah takut keluar-masuk butik, tentunya butik yang kisaran harga barang yang dijual di sana, memang sesuai dengan keuangan kita.

Saya belum mampu membeli produk-produk sekelas Prada, Louis Vuitton, Burberry, Jimmy Choo, Christian Louboutin, Chanel, dan saya tidak akan mencari barang tiruannya, apalagi memakainya.

Jadi, perempuan tetep bisa berpenampilan gaya, cantik, dengan barang-barang bermerek terkenal dengan harga terjangkau ‘kan? Jangan malas berburu diskon, salah satu kuncinya.

By the way, tante saya punya cerita tentang seseorang dan barang KW ini.

Tante saya ini adalah penggemar dan kolektor fanatik Louis Vuitton, dan Puji Tuhan, saat ini ia masih diberi rejeki yang memampukannya belanja merek tersebut di negara asalnya, bahkan namanya sudah terdaftar menjadi pelanggan butik LV, yang berada di Paris, Perancis.

Saat ia sedang belanja di sana, tiba-tiba ada orang Indonesia, yang dengan nekatnya masuk ke dalam butik, sambil menenteng satu tas merek tersebut, tapi bukan tas LV asli, melainkan yang KW kesekian. Dan seketika salah satu penjaga butik, memanggilnya dan menjelaskan untuk tidak memasuki butiknya dengan membawa barang yang bukan asli. Ternyata mereka sudah sangat ahli membedakan, mana produk asli dan mana yang tiruan. Tidak hanya memanggil si ibu tadi, tapi kemudian ibu tadi diberi tas plastik kresek warna hitam, tanpa nama apapun di depannya, ia diminta untuk memasukkan tas LV-LVannya itu tadi ke dalam tas plastik tersebut, dan kemudian ia diminta untuk meninggalkan butik segera.

Berarti satu lagi lah ya…perempuan harus bisa tampil gaya, cantik, dan tak malu-maluin karena ketauan memakai barang KW atau barang tiruan.

Jadi buat mereka yang mendapat rezeki ke Perancis, dan nekat bawa tas LV yang tiruannya, jangan nekat juga ya masuk ke butik LV di sana. Jangan bikin malu…hihihihi… :mrgreen:

Tinggalkan Kemarin…

Thursday, December 31st, 2009

Ku biarkan mimpi itu terbang seiring selimut gigil terpa angin…

Tinggalkan tawa mereka di atas tangisku…

Tinggalkan caci mereka yang tertumpah padaku…

Tinggalkan gelak mereka di atas mirisku…

Tinggalkan benci mereka di atas cintaku…

—-

Tak bisakah kalian tinggalkanku?

Biarkanku hidup?

Melukis mimpi yang tak lagi membunuhku dingin…

Tapi berikan hangat hati peluknya…

—-

Silakan meraih mimpi-mimpi baru…

Silakan mengukir tambatan hati baru di setiap detik langkah kehidupan karir dan cinta…

Silakan melukis angan dan bunga hati…

Silakan rengkuh senyum matarimu…

Jadikanlah tiap detik adalah hari barumu, dan tahun barumu…

—-

Happy New Year 2010, My Friends!!! Wish you all the best, in the up coming year…

Tik…tok…tik…tok…tik…tok…

Perempuan Oh Perempuan…

Wednesday, December 16th, 2009

“Errrr…saya ini sekarang yang perempuan cuma hardware-nya, software-nya laki.”

Yupe…didikan dari “brengsek”nya dunia sekitar, membuat saya bukan seperti perempuan kebanyakan, atau setidaknya saya terlalu gengsi untuk memperlihatkan ke dunia.

“Kenapa sih loe cuma mau liat apa yang elo mau liat, mau denger cuma hal-hal yang elo mau denger, selalu pikir yang negatif, ngomel, cranky, dikit-dikit panik, stres, parno, insecure, super sensitif ga jelas, yang semuanya itu belom tentu kejadian.”

Ditampar? Jelas!

Tamparan-tamparan dan deraan-deraan semacam itu, sudah bertahun-tahun saya lalui, saya nikmati dan saya syukuri. Sumpah mati, kalau saya tidak mendapatkan itu semua, mampuslah saya, akan terus seperti perempuan kebanyakan, dan seperti sebagian kecil laki-laki tukang mrepet yang seperti perempuan.

Tak tahu mengapa, kebetulan sekali, saya bergaul dengan dan “digauli” oleh orang-orang “laknat” nan “brengsek” plus “keparat” yang dengan sukarela hati menciptakan satu mind set baru di seorang Ocha yang dulu adalah manusia super menyebalkan di segala seluk-beluk urusan ngomel, mrepet dan cranky, yang sepertinya sudah menjadi trademark perempuan kebanyakan.

Jangan dikira saya tidak nangis-nangis darah saat melalui itu semua! Tidak setengah mati menahan diri, mencoba berpikir sebelum mrepet, mencoba memakai “sepatu” orang lain, tidak menjadikan mrepet dan omelan sebagai sebuah solusi, yang pada akhirnya menjadikan saya mampu untuk mengucapkan “Yupe, itu salah saya, maaf ya, from deep inside my heart,” walaupun tetap ada masanya di mana saya kehilangan kemampuan itu semua.

Proses pembelajaran saya, memang dimulai dari hal-hal yang sepele dan sangat kecil…

1. Saat saya mengirimkan SMS, dan tidak ada balasan sama sekali dari yang bersangkutan…

“Emang kalo kamu SMS, harus langsung dibales? Terus melegalkan kamu untuk ngomel? Gak pernah mikir apa ya mungkin aja aku abis batere, abis pulsa, ga ada signal, lagi rapat. Ya mbok nanya dulu. Terus, harus ya gue jalan kemana bilang ama elo?”

2. Menunggu telepon dari seseorang…

“Bisa aja khan aku ampe rumah capekh, ga kuat lagi ngangkat telpon dan langsung tidur.”

dan sekian tahun kemudian…

“Itu aku sukanya dari kamu, kalo kamu dah nyoba sekali telepon terus ga diangkat, kamu ga rewel nelpon berkali-kali and mau nunggu ampe akunya ga sibuk trus baru telpon kamu.” (*Yayaya, coba elo ketemunya gue beberapa tahun sebelum itu, Mas, kalo telpon loe ga gue rewelin!!)

3. Di sebuah perbincangan (sepertinya hal ini sudah pernah saya tuliskan di cerita saya dulu)…

“Emangnya elo anak dewa yang apa-apa harus diturutin?” (*Njjjrrriiiiiiittttt!!!!!*) :mrgreen:

4. Lagi-lagi di sebuah perbincangan…

“Kamu cantik, tapi akan lebih cantik kalo seseorang ngeliat kamu cantik terus pinter, smart!!!”

…dan ke hal-hal yang sedikit lebih besar daripada hal-hal di atas…

5. Didera dosen dengan segala pertanyaan, saat saya ternyata harus presentasi materi kerja kelompok dan menjawab semua pertanyaan, seorang diri, tanpa ada anggota kelompok lain, yang hampir membuat saya kabur dari depan kelas, karena saya belum benar-benar siap dengan materi itu. Tapi karena hal ini, saya bisa presentasi dan menjawab seluruh pertanyaan dari dosen, untuk materi tugas kelompok yang berbeda, di lain kesempatan, tapi dengan siksaan yang sama, yaitu presentasi sendiri dan menjawab sendiri, tanpa ditemani. Dan pada akhirnya membawa saya menjadi asisten dosen di mata kuliah paling mengerikan di fakultas saya dulu, di semester berikutnya.

6. Mendapatkan omongan seperti ini dari sang dosen pembimbing (saat kurang dari 48 jam sebelum waktunya mengumpulkan skripsi)…

“Saya ga yakin ngelepas kamu sidang bulan ini, tapi tetep saya akan tandatangani surat kamu untuk maju sidang bulan ini, terserah kamu mau buat skripsi kamu jadi apa,” yang membuat saya setelah itu, selama lebih dari 36 jam tidak sedetik pun merebahkan diri di atas tempat tidur, dan tidak tidur, hingga 3 bundel skripsi yang siap diujikan dikumpulkan di hari yang telah ditentukan oleh fakultas…Got A for it (*Teteup songong hahahahha!!!*)

…dan hal yang lebih besar lagi…

7. Saat di kantor…

“Njrit deh itu HRD maunya apa sih. Jelas-jelas dah gue kasih, dia tanda tangan pulakh tanda terimanya, hardcopy aslinya langsung gue kasih ke dia. CD softcopynya elo juga khan yang bawa, trus bos kita pun dah email ke dia. Tanda tangannya dia juga gituh. Trus sekarang berkasnya ilang semua gituh? Dan kita yang disuruh bikin berita acara? Giginya dia gendut apa!”

“Ya udah, biar aja, semua penilaian kita tertunda, kita doain ajah, biar dia dapet pekerjaan yang lebih layak, so dia pindah dan HRDnya kita bukan dia lagi. Orang sabar pasti kesel!”

Pelatihan-pelatihan yang sungguh menyenangkan. Yang saat ini menjadikan saya seperti ini…

1. Berbicara pakai otak. Tidak hanya dengan mulut, dan sangat-sangat saya usahakan dengan nada datar, kecuali kalau yang diajak bicara, memang sungguh keterlaluan.

Itu sebabnya saat ini saya katakan pada teman-teman di kantor bahwa mereka boleh menanyakan apapun ke saya sebagai HRD mereka, tapi dengan sangat menyesal saya tidak akan memberikan jawaban langsung. Pasti saya akan bertanya balik, apa yang kamu ketahui dari pertanyaan itu?

2. Sabar dengan tingkat toleransi sudah jauh lebih tinggi.

“Biar, dia mau ngapain ajah, kalo ntar dah saatnya dia dateng ke gue, khan ntar balik ndiri, kalo ngga ya udah, jangan kayak orang susah!

3. Cranky, Mrepet, Ngomel, Panikan, Hobby nuduh/ngejudge orang lainGampang Stress, kalau jutek ini sudah default! :mrgreen:

4. Dan sudah jauh berkurang untuk mudah mengeluarkan kata-kata seperti ini…

“Eh, ntar kalo gitu, jangan salahin gue ya kalo…”

“Pokoknya ntar kamu sendiri yang harus ganti…”

…errr, bentar itu sama aja ngomel ya?…hahahaha…apalagi kalau  sudah ngomelin orang lain, lalu ternyata yang ngomel itu yang salah, lalu yang ngomel tanpa minta maaf ke yang diomelin…

Kalau sudah begini, saya biasanya mengingat salah satu bagian pendidikan yang pernah saya jalani…

“Ya udah Cha, biar ajah, itu berarti kastanya mereka masih jauh lebih rendah daripada kamu. Jangan repot, kayak orang susah.”

Untuk para perempuan, hehehehe kurangin cranky and ngomel-ngomel yuk dari sekarang…untuk para pria, jangan cranky or hobi ngomel kalo ga mau dibilang kayak perempuan…dan untuk para pria yang sangat logis, berani mengingatkan para perempuan di sebelahnya juga bukan suatu yang buruk loh…kalau para perempuannya tak terima, ya berarti satu karakteristik mereka sudah terlihat ke permukaan ‘kan ya?

Untuk semua pendidik saya di dunia nyata…THANK YOU…LOVE YOU FULL!!!! REALLY APPRECIATE IT!

Tinggal saya sekarang kembali menerapkan ilmu yang sudah saya dapatkan, jika saya kembali menemukan perempuan-perempuan tulen secara luar dalam. GOSH!